Fitch Ratings Turunkan Outlook Utang RI Jadi Negatif
Lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings, menurunkan outlook atau prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Meski demikian, Fitch tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB, yang berarti masih dalam kategori layak investasi (investment grade).
Dalam laporannya, Fitch Ratings menyatakan revisi outlook tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran atas tergerusnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menggerus sentimen investor, serta menekan ketahanan eksternal.
Lihat Juga : |
Fitch memang masih memperkirakan pemerintah Indonesia mempertahankan kebijakan yang prudent, termasuk kepatuhan pada batas defisit fiskal 3 persen PDB.
Namun, lembaga itu mengingatkan fokus pada target pertumbuhan 8 persen dan peningkatan belanja sosial berisiko melonggarkan bauran kebijakan fiskal dan moneter.
"Pelonggaran yang signifikan terhadap kerangka fiskal yang telah lama berlaku, termasuk batas defisit 3 persen, kemungkinan akan melemahkan kredibilitas kebijakan serta kemampuan pemerintah membiayai defisit fiskal yang lebih tinggi tanpa dukungan dari bank sentral," tulis Fitch.
Dari sisi fiskal, Fitch memproyeksikan defisit anggaran 2026 sebesar 2,9 persen PDB, lebih tinggi dari target pemerintah 2,7 persen. Tekanan belanja diperkirakan meningkat, termasuk untuk program makan bergizi gratis (MBG) yang nilainya diperkirakan mencapai 1,3 persen PDB.
Fitch Ratings juga menyoroti lemahnya penerimaan negara. Lembaga itu memproyeksikan rasio pendapatan pemerintah hanya mencapai 13,3 persen terhadap PDB pada 2026-2027, jauh di bawah median negara berperingkat 'BBB' yang sebesar 25,5 persen.
Selain itu, Fitch mencatat potensi risiko dari investasi di luar anggaran melalui sovereign wealth fund Danantara yang berencana menggelontorkan dana sebesar US$26 miliar atau sekitar 1,7 persen PDB tahun ini. Perluasan mandat ke aktivitas kuasi-fiskal berbasis utang dinilai dapat mengurangi transparansi fiskal serta meningkatkan risiko kewajiban kontinjensi bagi pemerintah.
"Pendapatan pemerintah melemah pada 2025 akibat penerimaan pajak yang lesu, pembatalan hampir seluruh rencana kenaikan tarif PPN sebesar 1 poin persentase, serta pengalihan permanen dividen BUMN ke sovereign wealth fund (SWF) yang baru dibentuk, Danantara," tulis Fitch.
Dari sisi eksternal, Fitch memperkirakan defisit transaksi berjalan melebar menjadi 0,8 persen PDB pada 2026 akibat melemahnya ekspor bersih. Risiko arus keluar modal dinilai tetap tinggi di tengah sentimen investor yang rapuh.
Meski demikian, Fitch tetap mempertahankan peringkat 'BBB' dengan mempertimbangkan rasio utang pemerintah yang relatif rendah. Rasio utang diproyeksikan naik menjadi 41 persen PDB pada 2026, masih di bawah median negara 'BBB' sebesar 57,3 persen.
Namun, beban pembayaran bunga yang mencapai sekitar 17 persen dari pendapatan pemerintah menjadi salah satu yang tertinggi di kelompok negara selevel.
"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan tetap relatif stabil di kisaran 5,0 persen pada 2026-2027, atau dua kali lipat dibandingkan median negara berperingkat 'BBB'," tulisnya.
Fitch menyebut outlook dapat kembali stabil jika terdapat keyakinan bahwa kebijakan disiplin tetap terjaga. Sebaliknya, penurunan peringkat dapat terjadi jika terjadi pelemahan kerangka kebijakan, lonjakan utang publik secara material, atau penurunan tajam cadangan devisa akibat tekanan eksternal.
(lau/pta)