Hitung-hitungan Wamenkeu Juda: Minyak Naik US$1 Defisit Tambah Rp6,8T
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memaparkan perhitungan pemerintah terkait potensi dampak kenaikan harga minyak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dia menyebut setiap kenaikan US$1 pada harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menambah defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun.
Juda mengatakan pemerintah secara rutin melakukan uji ketahanan (stress test) terhadap berbagai variabel makroekonomi untuk mengantisipasi gejolak global, termasuk potensi lonjakan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.
"Stress-test yang kami lakukan pada skenario yang cukup plausible itu menunjukkan bahwa defisit masih terjaga di bawah 3 persen, debt over GDP juga masih terjaga," ujar Juda dalam acara CNN Indonesia Economic Forum 2026, Senin (2/3).
Lihat Juga :CNN Indonesia Economic Forum Wamenkeu Klaim Ekonomi RI Paling Unggul di ASEAN: Stabil di Atas 5% |
Selain harga minyak, pemerintah juga menghitung sensitivitas terhadap pergerakan nilai tukar dan imbal hasil surat utang negara.
Juda menyebut pelemahan rupiah sebesar Rp100 terhadap dolar AS dapat menambah defisit sekitar Rp800 miliar. Sementara kenaikan yield sebesar 0,1 persen berpotensi meningkatkan beban anggaran sekitar Rp1,9 triliun.
Meski demikian, ia menegaskan APBN dirancang cukup tangguh untuk meredam berbagai tekanan eksternal. Pemerintah, kata dia, menyusun kebijakan fiskal dengan tiga prinsip utama yakni kehati-hatian (prudent), disiplin, dan fleksibel.
"APBN kita didesain dengan prinsip prudent, disiplin, dan fleksibel. Kita memastikan defisit tetap di bawah 3 persen dan rasio utang terhadap PDB sekitar 40 persen, masih jauh di bawah batas undang-undang 60 persen," ujarnya.
Menurut Juda, fleksibilitas fiskal menjadi kunci dalam menghadapi berbagai kejutan global. Pemerintah juga menyiapkan cadangan fiskal sebagai bantalan untuk meredam gejolak baik dari sisi belanja maupun penerimaan negara.
Dari sisi pembiayaan, Kementerian Keuangan juga melakukan diversifikasi sumber pendanaan. Juda mengungkapkan pemerintah baru saja menerbitkan global bond senilai US$4,5 miliar ekuivalen dalam mata uang euro.
"Minggu lalu kami, Kemenkeu baru saja menerbitkan global bonds sejumlah USD4,5 miliar equivalent tapi dalam mata uang Euro dan Renminbi. Dan itu harganya masih sangat bagus, yield-nya masih sangat bagus. Untuk Renminbi antara 2-3 persen dan untuk Euro itu 4-5 persen. Ini ukurannya ini masih sangat bagus sekali untuk pasar global kita," pungkas Juda.
(lau/ins)