Pengamat Ungkap Anomali Harga Emas saat Perang Timur Tengah Pecah
Harga emas dunia terpantau melemah di tengah memanasnya perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pada perdagangan Rabu (4/3), harga emas Antam turun Rp77 ribu ke level Rp3,045 juta per gram.
Padahal secara teori, emas dianggap sebagai safe haven yang biasanya diburu investor saat ketidakpastian geopolitik meningkat.
Lantas, mengapa harga emas tidak melambung saat perang pecah, dan apakah ada anomali dalam pergerakan logam mulia tersebut?
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan terdapat tiga faktor utama alasan harga emas turun di tengah memanasnya perang di kawasan Timur Tengah. Pertama, safe haven emas di masa perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah bergeser ke dolar AS.
"Ini terlihat dari indeks dollar AS ke level 98,8 atau naik 1,2 persen dalam sepekan terakhir," ujar Bhima kepada CNNIndonesia.com, Kamis (5/3).
Kedua, adanya ambil untung atau profit taking emas oleh investor karena sebelumnya harga sudah tinggi. Bhima menekankan hal ini wajar karena sebagian investor membeli emas untuk spekulasi.
Ketiga, ekspektasi imbal hasil pembeli US Treasury (membeli dolar AS) akan naik karena harga minyak naik, inflasi naik, dan suku bunga terdorong naik.
Bhima juga menjelaskan likuiditas menjadi alasan harga emas dinilai kurang berfungsi sebagai nilai lindung dibandingkan kenaikan imbal hasil US Treasury dan penguatan dolar AS.
"Iya karena likuiditas kuncinya. Begitu krisis dan perang, memindahkan dolar AS lebih gampang daripada emas batangan. Cash is the key," terangnya.
Ia pun menambahkan investor bukan sekadar mencari imbal hasil untuk melindungi inflasi, tetapi justru bagaimana untuk bertahan.
"Yang dicari bukan sekedar imbal hasil untuk lindungi inflasi. Tapi how to survive," kata Bhima.
Senada, Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menyampaikan penurunan harga emas saat ini merupakan koreksi teknikal dan efek penguatan dolar AS.
Meski begitu, Syafruddin menegaskan apabila konflik di Timur Tengah terus berlarut-larut maka permintaan emas akan terus meningkat karena investor mencari perlindungan dari risiko geopolitik dan inflasi.
"Misalnya sampai mengganggu jalur energi global, maka secara historis permintaan emas biasanya akan kembali meningkat karena investor mencari perlindungan terhadap risiko geopolitik dan inflasi," ungkap Syafruddin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (5/3).
Ia memproyeksikan dalam jangka pendek apabila penguatan dolar AS dan kenaikan yield US Treasury masih berlanjut, maka harga emas berpotensi tetap dalam tekanan.
"Hubungannya cukup mekanis, emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, investor global cenderung memindahkan portofolionya ke aset yang memberikan return tetap," jelasnya.
Namun, menurut Syafruddin, tekanan tersebut biasanya bersifat siklikal atau naik-turun dan jangka pendek.
"Pasar emas sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik. Jika konflik Iran dengan AS-Israel mengalami eskalasi, misalnya meluas ke kawasan Teluk atau mengganggu jalur distribusi energi global, maka faktor ketidakpastian geopolitik biasanya kembali mendominasi," kata Syafruddin.
(fln/ins)