Trump: Perang Iran Lebih Penting Ketimbang Kenaikan Sedikit Harga BBM

CNN Indonesia
Jumat, 06 Mar 2026 09:15 WIB
Trump mengaku tak khawatir harga BBM di AS naik sedikit, sementara anak buahnya di Gedung Putih ketar-ketir mengatasi gejolak harga energi. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku tidak khawatir dengan kenaikan harga BBM di negaranya imbas meluasnya perang melawan Iran.

Dalam wawancara eksklusif dengan Reuters, Trump menegaskan operasi militer AS di Iran menjadi prioritas utamanya.

"Saya tidak khawatir sama sekali. Harganya akan turun sangat cepat setelah ini berakhir, dan kalau naik, ya naik saja. Ini jauh lebih penting daripada harga bensin yang naik sedikit," katanya saat ditanya mengenai kenaikan harga bensin di SPBU AS.

Trump juga mengatakan tidak berencana menggunakan cadangan minyak darurat terbesar di dunia, Strategic Petroleum Reserve (SPR). Ia yakin Selat Hormuz yang jalur penting pengiriman minyak di dekat Iran, akan tetap terbuka, karena angkatan laut Iran berada di 'dasar laut'.

Harga minyak global telah melonjak 16 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu, seiring meluasnya konflik yang mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah.

Rata-rata harga BBM di AS naik 27 sen sejak pekan lalu menjadi US$3,25 per galon, menurut AAA, organisasi perjalanan AS yang memantau harga bahan bakar. Angka tersebut 15 sen lebih tinggi dibandingkan setahun lalu. Namun, Trump memandang kenaikan belum terlalu banyak.

Trump memperkirakan perang melawan Iran akan berlangsung sekitar 4-5 minggu.

Meski Trump terang-terang meremehkan kenaikan harga BBM, Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles dan Menteri Energi Chris Wright telah berkomunikasi dengan para CEO perusahaan minyak untuk menjajaki opsi mengatasi lonjakan harga energi, kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.

Kepada Reuters, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan tim energi dan keamanan nasional tengah bergerak cepat merumuskan langkah untuk menurunkan harga bensin.

Pejabat itu menyebut Wiles sempat memperingatkan dalam rapat Gedung Putih bahwa kegagalan mengatasi kenaikan harga BBM bisa menjadi 'bencana' bagi Partai Republik dalam pemilu.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio awal pekan ini mengatakan pemerintah tengah menyiapkan paket kebijakan untuk mengatasi kenaikan harga energi. Namun, sejauh ini rencana yang diumumkan hanya berupa asuransi risiko bagi kapal tanker minyak yang didukung AS serta kemungkinan pengawalan angkatan laut AS di Selat Hormuz.

Para pejabat Gedung Putih juga membahas sejumlah opsi lain, termasuk libur pajak bensin federal dan pelonggaran aturan lingkungan untuk bahan bakar musim panas yang memungkinkan campuran etanol lebih tinggi.

Pemerintah juga mempertimbangkan kemungkinan pelepasan minyak dari Strategic Petroleum Reserve, tetapi ditolak Trump.

Tiga eksekutif energi melihat Gedung Putih memiliki pilihan yang terbatas untuk menekan harga energi.

"Kalau melihat berbagai opsi kebijakan, baik domestik maupun dari negara lain, semuanya bisa membantu tetapi dampaknya tidak besar," kata salah satu eksekutif energi yang meminta anonim.

"Fokus utama adalah melakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk memulihkan kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, imbuhnya.

Pengamat politik mengingatkan kenaikan harga BBM yang berkepanjangan bisa merugikan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu November mendatang, ketika kendali atas Kongres AS dipertaruhkan.

Analis menilai para pemilih sudah merasa tidak puas dengan tingginya biaya hidup serta pengelolaan ekonomi oleh Trump.

Para pemimpin Republik di Kongres, seperti Ketua DPR Mike Johnson, juga meremehkan kekhawatiran atas kenaikan harga bensin, meskipun partai tersebut berencana menjadikan keberhasilan ekonomi sebagai fokus strategi kampanye pemilu paruh waktu.

(pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK