Tak Cuma IHSG, Bursa Asia Kompak Anjlok saat Minyak US$100 per Barel

CNN Indonesia
Senin, 09 Mar 2026 13:25 WIB
Manajer portofolio Franklin Templeton Nicholas Chui menggambarkan kondisi pasar Asia saat ini dipenuhi rasa khawatir investor.
Manajer portofolio Franklin Templeton Nicholas Chui menggambarkan kondisi pasar Asia saat ini dipenuhi rasa khawatir investor. (FOTO:CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Tekanan di pasar saham tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah indeks saham utama di kawasan Asia juga kompak anjlok pada perdagangan Senin (9/3) seiring lonjakan tajam harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak perang di Timur Tengah.

Berdasarkan data pasar terbaru, beberapa indeks utama di Asia bergerak di zona merah. Di Australia, indeks ASX 200 turun 3,29 persen ke level 8.559, sementara ASX 300 melemah 3,26 persen ke posisi 8.503. Di Selandia Baru, indeks NZX 50 juga turun 3,21 persen.

Di kawasan Asia Timur, indeks Shanghai Composite di China melemah sekitar 1,13 persen, sementara CSI 300 turun sekitar 1,65 persen. Bursa Hong Kong juga ikut tertekan, dengan Hang Seng anjlok sekitar 2,54 persen dan indeks HS China Enterprises turun 1,80 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tekanan juga terjadi di Asia Selatan. Indeks Nifty India turun 2,94 persen dan Sensex melemah hampir 3 persen. Di Jepang, indeks Nikkei 225 mencatat penurunan paling tajam di kawasan dengan pelemahan sekitar 6,92 persen.

Di Indonesia sendiri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikut terdampak. Pada awal perdagangan Senin pagi, IHSG sempat anjlok 5,41 persen atau turun 410,73 poin ke level 7.174. Berdasarkan data RTI Business pukul 09.10 WIB, indeks dibuka di posisi 7.374 sebelum langsung tertekan oleh aksi jual investor.

Anjloknya pasar saham di berbagai negara terjadi setelah harga minyak dunia melonjak tajam akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak hingga sekitar US$119 per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat (AS) jenis West Texas Intermediate (WTI) naik hingga sekitar US$118 per barel. Lonjakan ini menjadi salah satu kenaikan harian terbesar sejak akhir 1980-an.

Kenaikan harga energi dipicu keputusan sejumlah produsen minyak di Timur Tengah seperti Iran, Kuwait, dan Uni Emirat Arab yang memangkas produksi setelah penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama perdagangan energi global.

Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi akan membebani perekonomian global, meningkatkan inflasi, serta menekan konsumsi dan aktivitas bisnis.

Di Jepang, tekanan pada pasar saham juga diperparah oleh kejatuhan sejumlah saham teknologi besar. Saham SoftBank Group dilaporkan turun lebih dari 11 persen, sementara saham sektor chip seperti Advantest dan Lasertec juga melemah tajam.

Korea Selatan bahkan sempat menghentikan perdagangan saham sementara setelah indeks Kospi anjlok lebih dari 8 persen dan memicu mekanisme circuit breaker sekitar 20 menit.

Analis menilai tekanan pasar saat ini lebih banyak dipicu oleh sentimen ketidakpastian global. Manajer portofolio Franklin Templeton Nicholas Chui menggambarkan kondisi pasar Asia saat ini dipenuhi rasa khawatir investor.

"Jika melihat pergerakan harga di Asia, satu kata yang menggambarkannya adalah ketakutan. Investor saat ini tidak ingin terlalu terlibat di pasar," ujarnya, melansir Reuters.

Lonjakan harga energi dan risiko perang yang berkepanjangan membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham.

Tekanan juga mulai merembet ke pasar global. Kontrak berjangka indeks saham AS ikut melemah, dengan Dow Jones futures turun lebih dari 800 poin, sementara S&P 500 futures dan Nasdaq-100 futures masing-masing turun sekitar 1,5 persen.

[Gambas:Video CNN]

(del/ins)