Minyak Diprediksi Tembus US$150 per Barel Jika Perang Berkepanjangan

CNN Indonesia
Rabu, 11 Mar 2026 08:20 WIB
Harga minyak mentah dunia diprediksi bisa mencapai US$150 per barel jika perang di Timur Tengah meluas dan berkepanjangan.
Harga minyak mentah dunia diprediksi bisa mencapai US$150 per barel jika perang di Timur Tengah meluas dan berkepanjangan. Ilustrasi. (iStock/bomboman).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia diprediksi bisa mencapai US$150 per barel jika perang di Timur Tengah meluas dan berkepanjangan.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi lonjakan harga minyak bisa terjadi jika Selat Hormuz terganggu dan pasar mulai percaya bahwa gangguan pasokan akan bertahan lama imbas konflik antara Iran melawan AS-Israel itu.

"Angka US$150 (per barel) bukan mustahil secara teknis," ujar Syafruddin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (10/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Syafruddin mengingatkan harga minyak mentah dunia pada 2008 melonjak sangat tinggi saat pasar dikuasai rasa takut, dolar melemah, dan pasokan dipersepsikan terancam.

Namun, pada gonjang ganjing harga minyak dunia saat ini, pasar saham energi belum ikut melonjak seagresif harga minyak.

Merujuk laporan Reuters, Syafruddin menyebut saham perusahaan minyak besar hanya naik tipis walau harga minyak melonjak tajam. Ini dinilai menjadi sinyal bahwa investor belum yakin lonjakan ini akan bertahan panjang.

Pasar disebut masih membaca gangguan pasokan sebagai tekanan jangka pendek, bukan perubahan rezim harga permanen.

"Peluang (harga minyak) US$150 (per barel) tetap ada, tetapi syaratnya berat," ujar Syafruddin.

Syarat yang berat itu seperti konflik harus memburuk, distribusi energi harus benar-benar lumpuh, dan pasar harus kehilangan keyakinan bahwa keadaan akan cepat pulih.

Tanpa syarat-syarat itu terpenuhi, harga US$100-120 dolar lebih masuk akal sebagai zona tekanan yang serius. Di atas level ini, permintaan global juga mulai terancam melemah, dan pelemahan permintaan sering menjadi rem alami bagi reli minyak.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai harga minyak dunia berpotensi menembus US$150 per barel jika perang terus berlanjut dan Selat Hormuz ditutup.

Ia mencontohkan peristiwa saat Perang Teluk antara Irak dan Iran, ketika harga minyak dunia sempat mencapai US$140 per barel meski Selat Hormuz tidak ditutup. Oleh karena itu, peluang harga menembus US$150 dinilai terbuka apabila jalur tersebut benar-benar ditutup.

"Kalau perang tetap berlangsung dan Selat Hormuz masih ditutup, maka pada saatnya akan mencapai US$150. Dulu waktu Perang Teluk pernah US$140. Waktu itu Selat Hormuz enggak ditutup," kata Fahmy.

Pada Senin (9/3) harga minyak mentah acuan Brent memang sempat melonjak hingga US$104 per barel. Terkini, harga telah terkoreksi dan turun menjadi US$92,45 per barel.

Harga terkoreksi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan percakapan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menyampaikan sejumlah proposal yang bertujuan mempercepat penyelesaian konflik dengan Iran.

Trump dalam wawancara dengan CBS News menyatakan konflik dengan Iran kemungkinan akan segera berakhir dan perkembangan situasi berjalan lebih cepat dari perkiraan awal.

"Saya pikir perang melawan Iran hampir selesai dan kami jauh lebih cepat dari perkiraan empat hingga lima minggu sebelumnya," ujar Trump.

Meski demikian, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar energi. Garda Revolusi Iran menyatakan pihaknya akan menentukan akhir dari perang tersebut dan memperingatkan bahwa Teheran tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari kawasan jika serangan AS dan Israel terus berlanjut.

Di sisi lain, tekanan terhadap harga minyak juga datang dari rencana pemerintah AS yang mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia serta pelepasan cadangan minyak darurat untuk meredam lonjakan harga energi global.

Analis pasar IG Tony Sycamore memperkirakan harga minyak akan tetap bergerak sangat volatil dalam waktu dekat.

"Melihat perkembangan dalam 24 jam terakhir, saya memperkirakan harga minyak akan tetap sangat fluktuatif dan diperdagangkan dalam kisaran luas antara sekitar US$75 hingga US$105 per barel," ujar Tony seperti dikutip Reuters.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/sfr)