Airlangga Dorong Asia Perkuat Multilateralisme dan Kerja Sama Regional

Kemenko Perekonomian | CNN Indonesia
Kamis, 12 Mar 2026 11:20 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meilai, kerja sama regional dan sistem multilateralisme dibutuhkan dalam menghadapi dinamika ekonomi global saat ini.
(Foto: arsip Kemenko Perekonomian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong negara-negara di kawasan Asia untuk memperkuat kerja sama regional dan sistem multilateralisme dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Hal tersebut disampaikan Airlangga pada sesi Asian Leaders Roundtable dalam Tokyo Conference 2026 di Jepang, Rabu (11/3). Saat itu, Airlangga menyoroti tatanan global yang kini tengah mengalami perubahan signifikan akibat peningkatan proteksionisme dan penurunan kepercayaan antarnegara.

Airlangga mengungkapkan bahwa situasi geopolitik yang memanas, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, telah menekan stabilitas ekonomi dunia. Dampaknya antara lain lonjakan harga minyak dunia yang melampaui US$100 per barel, serta ancaman gangguan jalur energi di Selat Hormuz. Hal ini membuktikan bahwa stabilitas ekonomi sangat bergantung pada kondisi keamanan global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Guna menjaga ketahanan nasional di tengah krisis tersebut, Pemerintah Indonesia di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto terus mempercepat pengembangan energi domestik. Indonesia telah mengimplementasikan program Biodiesel B40 menuju B50, serta mempercepat pengembangan Bioetanol melalui program E10 menuju E20.

Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya hingga 800 Gigawatt sebagai bagian dari strategi transisi energi jangka panjang.

Dalam forum yang dihadiri oleh tokoh ekonomi kawasan seperti mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Airlangga menegaskan pentingnya peran Asia sebagai penyeimbang kekuatan global.

Asia sendiri diproyeksikan menyumbang sekitar 52 persen terhadap PDB global pada 2050, sehingga kerja sama melalui ASEAN dan G20 menjadi instrumen vital untuk mencegah fragmentasi ekonomi menjadi blok-blok yang saling bersaing.

Terkait kondisi di dalam negeri, Airlangga memaparkan bahwa ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap solid dengan pertumbuhan sekitar 5,4 persen pada 2026. Keberhasilan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut hingga awal 2026 disebut sebagai bukti ketahanan ekonomi nasional.

Airlangga menekankan, Indonesia akan terus mengedepankan sinergi "Indonesia Incorporated" antara pemerintah dan dunia usaha untuk memperkuat daya saing global.

Menutup paparannya, Airlangga mengingatkan bahwa Asia memiliki peluang besar untuk memimpin stabilitas ekonomi dunia jika tetap berkomitmen pada keterbukaan dan inklusivitas. Ia juga menegaskan posisi strategis Indonesia dalam menavigasi ketidakpastian ini dengan tetap berpegang pada diplomasi non-blok.

"Arahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia sendiri harus ada di tengah panggung ekonomi global karena kinerja ekonomi yang tetap solid di tengah ketidakpastian global. Indonesia juga akan terus melakukan diplomasi non-blok didalam menavigasi ketidakpastian global ini," tutur Airlangga.

Ia optimistis bahwa kawasan Asia mampu menghadapi persaingan kekuatan besar dunia tanpa harus terjebak dalam rivalitas yang merugikan.

"Jika Asia tetap berpegang pada semangat keterbukaan regional dan menolak pendekatan zero-sum dalam rivalitas kekuatan besar, maka abad ke-21 dapat benar-benar menjadi abad Asia," pungkas Airlangga.

(rea/inh)


[Gambas:Video CNN]