Senjata Makan Tuan, Harga Bensin AS Melonjak Tajam Akibat Perangi Iran
Harga bensin dan diesel eceran di Amerika Serikat (AS) mengalami lonjakan tajam di tengah konflik antara AS dan Israel melawan Iran. Perang tersebut telah mengganggu aktivitas ekspor minyak dan bahan bakar.
Harga bahan bakar melonjak lebih dari 10 persen pada pekan ini, seiring kenaikan harga minyak dunia di atas US$90 per barel sekaligus tertinggi dalam beberapa tahun ke belakang.
Presiden AS Donald Trump mengaku tidak ambil pusing dengan kenaikan harga bensin ini. "Jika naik, ya naik saja," katanya kepada Reuters, dikutip Kamis (12/3).
Trump pernah berjanji untuk menurunkan harga energi dan menggenjot pengeboran minyak dan gas AS selama masa jabatan keduanya.
Namun, sejauh ini masa kepemimpinannya ditandai dengan volatilitas dan ketidakpastian di tengah pergeseran kebijakan seperti tarif dan gejolak geopolitik.
AS sendiri merupakan produsen minyak mentah terbesar di dunia. Negeri Paman Sam juga merupakan eksportir utama. Namun, mereka tetap mengimpor jutaan barel per hari karena merupakan konsumen minyak terbesar di dunia.
Data dari American Automobile Association (AAA) menunjukkan per Jumat (6/3) kemarin, harga rata-rata nasional untuk bensin reguler di AS berada di angka US$3,32 per galon. Angka ini naik 11 persen dari sepekan lalu dan merupakan yang tertinggi sejak September 2024.
Harga diesel berada di angka US$4,33, naik 15 persen dari seminggu lalu. Angka ini melonjak ke level tertinggi sejak November 2023.
Pengendara AS di sebagian wilayah Midwest dan Selatan, termasuk negara-negara bagian yang mendukung Trump saat Pemilu AS 2024, telah melihat beberapa kenaikan biaya bahan bakar yang paling tajam sejak konflik di Iran dimulai.
Situs pelacakan bahan bakar GasBuddy mencatat, di Georgia yang merupakan negara bagian pemilih Trump dalam pemilu 2024, mencatatkan rata-rata harga bensin eceran naik 40,1 sen per galon selama sepekan terakhir.
Andrenna McDaniel, seorang pekerja asuransi kesehatan di South Fulton, Georgia, mengatakan dia terkejut melihat harga meroket dalam semalam.
"Harganya melonjak begitu cepat," katanya seraya menambahkan bahwa dia sama sekali tidak setuju dengan perang tersebut.
McDaniel, seorang pendukung Demokrat, mengatakan bahwa untuk saat ini dia hanya mengemudi untuk hal-hal yang paling penting saja. Ia beruntung karena masih bisa bekerja dari rumah, sehingga tidak perlu mengemudi sebanyak orang lain.
Seorang veteran Angkatan Udara AS dan pensiunan petugas pemadam kebakaran yang juga pemilih Trump bernama Richard Soule (69), mengatakan kesulitan di SPBU saat ini sepadan dengan upaya Trump untuk melindungi Amerika.
"Ketika Presiden Trump pergi ke sana dan mengebom nuklir mereka, sementara mereka hanya meremehkannya, saya yakin dia melakukan hal yang benar di waktu yang tepat," kata Soule.
Negara bagian lain, termasuk Indiana dan West Virginia, telah melihat harga naik masing-masing sebesar 44,3 sen dan 43,9 sen.
Beban yang lebih berat mungkin akan segera datang, kata para analis, karena harga minyak terus menunjukkan tren meningkat.
Pada Jumat (6/3), harga minyak berjangka AS menetap di US$90,90 per barel, naik hampir US$10 dan merupakan kenaikan satu hari terbesar sejak April 2020.
"Mengingat kondisi pasar saat ini, harga rata-rata nasional bensin dapat merangkak naik menuju $3,50 hingga $3,70 per galon dalam beberapa hari mendatang jika minyak terus naik dan gangguan pasokan berlanjut," kata analis GasBuddy Patrick De Haan.
Gangguan di Timur Tengah dan Selat Hormuz, jalur perdagangan utama minyak dunia, telah meningkatkan permintaan minyak AS di luar negeri, yang pada gilirannya ikut mendorong kenaikan harga bagi kilang domestik.
"AS telah melepaskan ketergantungannya pada minyak mentah Timur Tengah, tetapi jelas kilang-kilang Asia, dan pada tingkat yang lebih rendah, kilang-kilang Eropa belum melakukannya," kata Denton Cinquegrana, kepala analis minyak di OPIS.
"Itulah yang Anda lihat terjadi di pasar spot, karena permintaan untuk ekspor AS meningkat, sehingga harganya pun naik," imbuhnya.
Faktor musiman dapat menambah tekanan lebih lanjut. Harga bensin biasanya naik di musim semi dan mencapai puncaknya di musim panas karena permintaan bensin yang lebih tinggi dan produksi bensin campuran musim panas yang lebih mahal biaya produksinya.
Bahan bakar diesel mengalami lonjakan yang bahkan lebih agresif sejak Iran mulai membalas serangan AS dan Israel, yang secara signifikan mengganggu pengiriman di Selat Hormuz.
Persediaan diesel global tetap dalam pasokan ketat karena permintaan yang besar untuk pemanas dan pembangkit listrik selama musim dingin yang berkepanjangan di AS dan bagian lain dunia, serta keterbatasan struktural kapasitas penyulingan.
Harga label untuk segalanya, mulai dari makanan hingga furnitur, akan naik ketika biaya diesel naik.
Sebab, diesel digunakan dalam transportasi logistik, manufaktur, pertanian, dan pengiriman global.
"Di dunia di mana kata kunci yang populer adalah 'keterjangkauan', hal ini tentu saja tidak akan membantu," kata Denton Cinquegrana.
(dhz/ins)