BNI Sekuritas Bidik IHSG Tahun Ini Sentuh Kisaran 9.200 - 10.800

CNN Indonesia
Kamis, 12 Mar 2026 15:40 WIB
BNI Sekuritas menilai saat ini mayoritas sektor emiten di BEI dari sisi sektoral cenderung diperdagangkan dengan valuasi yang relatif murah.
BNI Sekuritas menilai saat ini mayoritas sektor emiten di BEI dari sisi sektoral cenderung diperdagangkan dengan valuasi yang relatif murah. Ilustrasi (Arsip BNI Sekuritas)
Jakarta, CNN Indonesia --

PT BNI Sekuritas membidik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di level 9.200 hingga 10.800 selama setahun ke depan. Adapun proyeksi ini didorong oleh valuasi pasar saham domestik yang dinilai tergolong masih murah secara historis.

Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menyampaikan saat ini IHSG berada di level yang cukup menarik dari sisi valuasi. Hal ini tercermin dari rasio price to earnings (PE) maupun price to book value (PBV).

Fanny menyebutkan saat ini rasio PE IHSG mendekati minus dua standar deviasi di bawah rata-rata historisnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita lihat dari segi PE maupun PBV, valuasi IHSG masih cukup murah. Bahkan dari sisi PE, posisinya masih dekat dengan minus dua standar deviasi di bawah rata-rata, level yang hampir tidak pernah terlihat dalam hampir 20 tahun," ujar Fanny dalam BNI Sekuritas Ramadan Market Update di kantor BNI Sekuritas, Jakarta Pusat, Rabu (11/3).

"Target IHSG dari BNI Sekuritas berada di level 9.200 untuk base case, hingga 10.800 untuk bull case berdasarkan pendekatan valuasi," tambahnya.

Sementara itu, Fanny menilai indikator earning yields spread terhadap obligasi menunjukkan saham masih lebih menarik dibanding instrumen pendapatan tetap. Hal tersebut mencerminkan adanya potensi aliran dana investor yang berpeluang mengalir ke pasar saham.

"Earnings yield spread over bond menunjukkan bahwa secara relatif investasi di saham masih lebih menarik dibandingkan obligasi," terang Fanny.

Kemudian, menurutnya, saat ini mayoritas sektor di Bursa Efek Indonesia jika dilihat dari sisi sektoral cenderung diperdagangkan dengan valuasi yang relatif murah. Fanny menyebut sebagian sektor berada di bawah minus satu standar deviasi dari rata-rata valuasi historisnya.

Adapun beberapa sektor yang dianggap menarik secara valuasi, yakni sektor komoditas dan konsumer..

"Kalau kita lihat one year forward valuation per sektor, rata-rata hampir semua sektor sudah berada di bawah minus satu standar deviasi," katanya.

[Gambas:Video CNN]

(fln/ins)