Selat Hormuz Ditutup, Bahlil Temui Prabowo Bahas Opsi Sumber Minyak
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membicarakan sejumlah langkah alternatif untuk menyikapi dinamika di Selat Hormuz, Iran, dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/3).
"Itu salah satu yang juga kita bicarakan, bahwa harus ada alternatif-alternatif, apa yang akan dipakai ketika Selat Hormuz kondisinya masih seperti ini," ujar Bahlil usai menghadiri rapat tersebut.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga melaporkan ke Prabowo bahwa ia akan segera melakukan konversi alias pengalihan sumber minyak mentah RI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa hal yang saya sudah laporkan, bahwa kita akan mengkonversi dari BBM kita, crude ya, minyak mentah dari Middle East, ke Amerika dan beberapa negara lain, seperti Nigeria, kemudian Brazil, Australia, dan beberapa negara lain," ucap dia.
Bahlil juga mengingatkan perihal harga minyak dunia bersifat fluktuatif.
Pemerintah, dalam menyusun kebijakan, mengacu pada harga minyak mentah Indonesia (ICP).
"Yang jelas kita akan mencari alternatif yang terbaik untuk bangsa kita," ujarnya.
Eskalasi konflik buntut serangan Israel-AS ke Iran memanas. Saling balas serangan terjadi.
Konflik itu pun bergeser dengan salah satu tindakan Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan pintu keluar masuk perdagangan minyak dari negara-negara teluk.
Hal itu pun membuat harga minyak mentah dunia bergejolak.
Pada Senin (9/3) lalu, harga minyak acuan Brent sempat menyentuh US$119,50 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022. Lalu turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang dengan Iran bisa segera berakhir.
Pagi tadi, harga kontrak minyak mentah Brent kembali naik US$8,54 atau 9,28 persen menjadi US$100,52 per barel. Lonjakan terjadi setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di kawasan Timur Tengah.
(mnf/sfr)