Makin Mendidih, Harga Minyak Dunia Ngegas Lagi hingga Tembus US$105

CNN Indonesia
Senin, 16 Mar 2026 08:35 WIB
Harga minyak mentah terus melanjutkan kenaikan hingga tembus US$105 per barel pada Senin (16/3) di tengah berlarutnya perang Iran melawan AS- Israel. (Foto: AFP/ATTA KENARE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia terus melanjutkan kenaikan pada Senin (16/3) di tengah berlarutnya perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Minyak mentah melesat nyaris 2 persen hingga tembus US$105 per barel hari ini.

Perang ini menempatkan infrastruktur minyak di negara Teluk dalam risiko, serta membuat Selat Hormuz tertutup. Kedua hal tersebut memicu gangguan pasokan global terbesar yang pernah terjadi.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak US$2,01 atau 1,95 persen ke US$105,15 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$1,61 atau 1,63 persen menjadi US$100,32 per barel.

Kedua kontrak acuan harga minyak global tersebut melonjak lebih dari 40 persen sepanjang Maret ini ke level tertinggi sejak 2022.

Gempuran keroyokan AS dan Israel terhadap Iran mendorong Teheran menyetop pengiriman melalui Selat Hormuz, titik sempit penting yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia.

Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg, setelah menyerang target militer pada akhir pekan lalu.

Serangan itu lantas memicu respons tegas dari Teheran, dengan ancaman pembalasan lebih lanjut. Pulau Kharg menangani sekitar 90 persen ekspor minyak Iran. Drone Iran juga menyerang terminal minyak utama di Fujairah di Uni Emirat Arab (UAE), tak lama setelah AS membombardir Pulau Kharg.

Fujairah berada di luar Selat Hormuz dan merupakan jalur ekspor sekitar 1 juta barel per hari minyak mentah Murban milik UEA. Volume ini setara dengan sekitar 1 persen permintaan minyak dunia.

Kepada Reuters, empat sumber mengatakan operasi pemuatan minyak di Fujairah kini telah dilanjutkan, meskipun belum jelas apakah aktivitasnya telah kembali normal.

Analis SEB Erik Meyersson mengatakan AS sedang mempertimbangkan opsi darat berisiko tinggi di Iran. Trump menargetkan menyerbu fasilitas nuklir Iran untuk mencaplok uranium, merebut pusat ekspor minyak Pulau Kharg, serta menduduki Iran selatan guna melindungi Selat Hormuz.

"Semua opsi itu mengindikasikan eskalasi signifikan dan membutuhkan toleransi terhadap risiko yang jauh lebih besar," kata Meyersson dikutip Reuters.

Ia juga mendesak para sekutu untuk mengerahkan kapal perang guna membantu AS mengamankan pelayaran di Selat Hormuz. Trump bersikeras menolak upaya sekutu di Timur Tengah untuk memulai negosiasi diplomatik dengan Iran.

Di sisi lain, Iran juga menolak kemungkinan gencatan senjata sampai AS dan Israel menyetop serangan.

Sikap AS dan Iran membuat harapan berakhirnya konflik secara cepat semakin menipis.

"Ketika konflik memasuki pekan ketiga, tidak adanya akhir yang jelas membuat pasar global semakin khawatir terhadap spiral eskalasi yang tak terkendali," kata Meyersson.

Di tengah gonjang-ganjing tersebut, International Energy Agency (IEA) mengatakan lebih dari 400 juta barel cadangan minyak akan segera mulai dialirkan ke pasar.

Ini merupakan pelepasan cadangan terbesar yang pernah dilakukan IEA demi menekan lonjakan harga akibat perang di Timur Tengah.

Lembaga tersebut menyatakan cadangan dari negara-negara Asia dan Oseania akan dilepas segera, sementara stok dari Eropa dan Amerika baru tersedia pada akhir Maret.

(pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK