Harga Minyak Kembali Naik 2,5% ke US$102, Pasar Waspadai Krisis Suplai

CNN Indonesia
Selasa, 17 Mar 2026 10:12 WIB
Harga minyak dunia kembali naik lebih dari 2 persen di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat perang Timur Tengah dan terganggunya Selat Hormuz. (Foto: REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali menguat lebih dari 2 persen pada perdagangan awal Selasa (17/3), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah jenis Brent crude oil naik sebesar 2,5 persen atau US$2,48 ke level US$102,69 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,6 persen atau US$2,42 ke posisi US$95,92 per barel.

Kenaikan ini membalikkan tren penurunan pada sesi sebelumnya, ketika Brent sempat turun 2,8 persen dan WTI merosot 5,3 persen setelah sejumlah kapal masih dapat melintasi jalur penting tersebut.

Pasar kini mencermati risiko pasokan minyak global, menyusul terganggunya Selat Hormuz yang menjadi jalur vital sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Jalur tersebut dilaporkan sebagian besar tertutup akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kini memasuki pekan ketiga.

Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran akan kekurangan pasokan, lonjakan biaya energi, serta tekanan inflasi global.

Di sisi lain, sejumlah sekutu Amerika Serikat (AS) menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk mengirim kapal perang guna mengawal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Penolakan tersebut menuai kritik dari Trump yang menilai sekutu Barat tidak menunjukkan rasa terima kasih.

Analis pasar IG, Tony Sycamore menilai risiko di kawasan masih sangat tinggi. Situasi dapat kembali memanas hanya dengan satu serangan terhadap kapal tanker.

"Risikonya tetap besar. Hanya dibutuhkan satu milisi Iran untuk menyerang tanker agar situasi kembali memanas," ujarnya.

Di tengah ketegangan tersebut, Iran juga dilaporkan meminta India untuk membebaskan tiga kapal tanker yang disita sejak Februari, sebagai bagian dari negosiasi untuk menjamin keamanan pelayaran.

Gangguan di Selat Hormuz juga berdampak langsung pada produksi minyak. OPEC menyebut Uni Emirat Arab, sebagai produsen terbesar ketiga dalam kelompok tersebut, terpaksa memangkas produksi hingga lebih dari setengah akibat penutupan jalur distribusi.

Untuk meredam lonjakan harga energi, pimpinan International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan tambahan cadangan minyak, di luar 400 juta barel yang telah disepakati sebelumnya.

Sejumlah bank global pun mulai menaikkan proyeksi harga minyak jangka panjang. Bank of America menaikkan proyeksi harga Brent 2026 menjadi US$77,50 per barel dari sebelumnya US$61, sementara Standard Chartered merevisi naik menjadi US$85,50 dari US$70.

Bank of America menyebut ada dua skenario utama, yakni penyelesaian cepat yang dapat menekan harga ke sekitar US$70 per barel, atau gangguan berkepanjangan yang bisa mendorong harga hingga US$85 per barel.

Sementara itu, Israel menyatakan telah menyiapkan rencana operasi militer setidaknya untuk tiga pekan ke depan, setelah melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Iran semalam.

(ldy/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK