Bapanas Ungkap Penyebab Harga Daging Sapi Tembus Rp160 Ribu di Pasar
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap penyebab harga daging sapi di sejumlah pasar bisa tembus hingga Rp160 ribu per kilogram (kg). Rupanya, hal ini dipicu perbedaan kualitas daging hingga panjangnya rantai distribusi.
Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menegaskan harga daging sapi di tingkat hulu hingga rumah potong hewan (RPH) masih dalam kondisi stabil.
"(Harga daging di) feedloter-nya Rp55 ribu, kemudian sampai di RPH Rp56 ribu, (harga daging) karkas Rp106 (ribu) sampai Rp107 (ribu). Itu sudah masih stabil kok," ujar Ketut di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan, Selasa (17/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan harga tinggi di tingkat konsumen umumnya berasal dari permintaan khusus terhadap daging dengan kualitas tertentu, seperti daging tanpa lemak atau kategori premium.
"Jadi konsumennya kustom, meminta khusus dikurangi lemaknya. Jadi dia jadinya daging super. Kalau daging super kan kita tidak atur," katanya.
Menurut Ketut, harga daging sapi yang menjadi acuan pemerintah, khususnya untuk bagian paha depan dan belakang, masih berada di kisaran Rp135 ribu hingga Rp140 ribu per kg. Secara nasional, rata-rata harga juga berada di sekitar Rp140 ribuan, meski di beberapa wilayah timur tercatat lebih tinggi.
Ia menambahkan menjelang Lebaran harga daging relatif terkendali karena sudah mendekati Harga Acuan Penjualan (HAP).
"Jadi sekali lagi harga daging relatif stabil. Kalaupun kenaikan, mungkin dari Rp135 ribu jadi Rp140 ribu (per kg), tapi sekarang sudah stabil di situ," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menemukan langsung variasi harga di pasar saat melakukan peninjauan. Dalam dialog dengan pedagang, harga daging sapi disebut berkisar Rp150 ribu hingga Rp160 ribu per kg, bahkan untuk potongan premium seperti has dalam mencapai Rp170 ribu per kg.
Dari hasil penelusuran, perbedaan harga ini diduga kuat dipengaruhi rantai distribusi yang panjang. Ketut menyebut adanya pihak perantara di luar jalur langsung dari RPH.
"Tangan ketiga, (asal dagingnya) bukan (dari) RPH dia," kata Ketut.
Roro menambahkan semakin panjang rantai distribusi, harga yang diterima konsumen akan semakin tinggi.
"Jadi semakin banyak orang di tengah, semakin naik. Kalau langsung ke pemasok, pasti harganya lebih rendah," ujarnya.
Selain itu, peningkatan permintaan menjelang Lebaran juga turut memberi tekanan pada harga di pasar. Permintaan daging sapi biasanya meningkat pada periode ini, sehingga harga cenderung naik di tingkat konsumen.
Kendati demikian, pemerintah memastikan akan terus memantau distribusi dan harga di lapangan termasuk menelusuri distributor yang menjual dengan harga lebih tinggi dari seharusnya.
(del/ins) Add
as a preferred source on Google
