EDUKASI KEUANGAN

Tips Berhemat Tanpa Tersiksa, Jurus Penting di Tengah Gejolak Harga

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Sabtu, 04 Apr 2026 09:00 WIB
Kunci berhemat terletak pada penyusunan skala prioritas pengeluaran, di mana prioritas pertama adalah kebutuhan wajib. Ilustrasi (iStock/airdone).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kondisi geopolitik global belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Efek dari konflik di Timur Tengah turut dirasakan warga Indonesia, mulai dari harga kebutuhan seperti plastik yang meningkat, hingga nilai tukar rupiah yang tembus Rp17 ribu per dolar AS.

Dalam situasi tersebut, masyarakat didorong untuk lebih selektif dalam mengatur keuangan dengan memprioritaskan kebutuhan utama.

Perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari menjelaskan langkah awal berhemat adalah memastikan pengeluaran difokuskan pada kebutuhan utama seperti makan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga.

"Dari kebutuhan utama itu pun tetap diupayakan untuk berhemat. Misalnya makan dengan masakan di rumah supaya pengeluaran bisa tetap terjaga," ujar Tejasari kepada CNNIndonesia.com, Rabu (1/4).

Menurut dia, dana darurat perlu ditingkatkan karena kondisi ke depan yang masih penuh dengan ketidakpastian.

Dana tersebut sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang likuid dan relatif aman seperti tabungan, deposito, emas, hingga reksa dana pasar uang.

Selain itu, masyarakat disarankan membatasi penempatan dana pada instrumen yang sulit dicairkan. Fokus diarahkan pada aset yang mudah diakses saat dibutuhkan.

Tejasari juga menyarankan agar tidak menambah utang baru selama masa krisis, bahkan jika memungkinkan segera melunasi pinjaman dengan bunga tinggi.

Lihat Juga :

Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho juga memberikan tips senada. Ia menilai kunci berhemat terletak pada penyusunan skala prioritas pengeluaran. Menurut dia, prioritas pertama adalah kebutuhan wajib.

"Contohnya adalah membayar cicilan utang, membayar tagihan air, beli token listrik, uang sekolah anak dan lain-lain," ujar Andy.

Berikutnya adalah kebutuhan penting yang masih dapat disesuaikan seperti pengeluaran konsumsi harian, biaya transportasi ke tempat kerja, serta uang saku anak bagi yang sudah berkeluarga.

Sementara itu kebutuhan bersifat kesenangan atau hiburan, Andy menganjurkan untuk dikurangi, khususnya saat kondisi ekonomi tidak pasti.

Cara Membagi Persentase Pengeluaran

Terkait pembagian pengeluaran, Tejasari menyarankan komposisi umum yakni 40 persen untuk kebutuhan rutin, maksimal 30 persen untuk cicilan utang, minimal 10 persen untuk tabungan atau investasi, serta 20 persen untuk kebutuhan pribadi.

Komposisi tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Contohnya jika tidak memiliki utang, porsi tabungan dan investasi bisa ditingkatkan.

"Misalnya saya tidak punya cicilan utang, maka porsi menabung dan investasi bisa ditingkatkan hingga 40 persen," ujar Tejasari.

Bagi yang sudah berkeluarga, ia menyebut pengeluaran rutin dapat dipatok sebesar 40 persen dan diselaraskan dengan pengeluaran pribadi 20 persen.

Jika sudah berkeluarga, porsi pengeluaran pribadi umumnya lebih kecil karena kebutuhan keluarga cenderung lebih besar.

Sementara itu, untuk individu yang masih lajang, kondisinya cenderung berbanding terbalik. Pengeluaran pribadi biasanya lebih besar, sedangkan pengeluaran rutin hanya sekitar 20 persen karena belum memiliki beban kebutuhan keluarga yang signifikan.

Meski demikian, porsi untuk tabungan atau investasi serta cicilan antara yang sudah berkeluarga dan lajang secara total tetap sama.

Di sisi lain,  Andy Nugroho justru menawarkan skema lain, yakni 55 persen untuk kebutuhan sehari-hari termasuk cicilan, 10 persen tabungan atau investasi, 10 persen dana darurat, 10 persen pengembangan diri, 10 persen hiburan, dan 5 persen untuk donasi.

(ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK