Perang Iran Bikin Aspal Makin Mahal, Menteri PU Dorong Produksi Lokal

CNN Indonesia
Kamis, 02 Apr 2026 19:30 WIB
Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap perang Iran melawan AS dan Israel turut mengancam sektor infrastruktur RI. Ilustrasi. (iStock/BanksPhotos).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkap perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel turut berdampak pada sektor infrastruktur RI. Pasalnya, konflik tersebut beresiko mengerek harga aspal.

Dody menerangkan perang mendorong harga minyak mentah dunia menjadi berfluktuasi tinggi dan berimbas langsung kepada sektor infrastruktur dalam negeri.

Lonjakan harga minyak dunia turut memengaruhi biaya material, terutama aspal yang digunakan dalam pembangunan jalan.

Sementara, berdasarkan data Kementerian PU, penggunaan aspal di Indonesia masih didominasi impor.

Aspal minyak impor mencapai 78 persen, sementara aspal minyak lokal hanya 18 persen dan aspal buton (asbuton) baru sekitar 4 persen dari total kebutuhan nasional.

Di sisi lain, kebutuhan aspal nasional saat ini mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,5 juta ton di masa mendatang.

Melihat kondisi tersebut, Dody menegaskan pemerintah akan mendorong kemandirian material konstruksi, salah satunya melalui optimalisasi aspal buton.

"Saya ingin menegaskan komitmen kami semua Kementerian Pekerjaan Umum untuk mendorong swasembada aspal nasional melalui pemanfaatan aspal buton atau yang kita kenal sebagai asbuton," ujar Dody dalam acara diskusi bersama media di kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, Kamis (2/4).

Dody menargetkan penggunaan asbuton dalam konstruksi jalan nasional bisa meningkat hingga minimal 30 persen. Dengan begini, penggunaan aspal minyak impor bisa tertekan hingga 52 persen.

Menurut dia, peningkatan pemanfaatan asbuton akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional.

Peningkatan aspal buton memberikan manfaat yang pertama dari sisi ekonomi makro.

Dari sisi makro, potensi penyelamatan cadangan devisa negara diperkirakan mencapai Rp4,08 triliun, serta tambahan penerimaan pajak domestik sekitar Rp1,6 triliun.

Selain itu, kebijakan ini juga diyakini mampu mendorong pertumbuhan industri dalam negeri.

Dody menambahkan, pengembangan asbuton juga berpotensi menciptakan efek pengganda ekonomi senilai Rp22,67 triliun serta membuka ribuan lapangan kerja baru.

"Kebijakan ini bukan hanya tentang mengganti material, tapi tentang kemampuan kita untuk semakin mampu berdiri di atas kaki kita sendiri dan arah pembangunan kita ke depan," ujar Dody.

(dhz/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK