Bos Antam Ungkap Waktu Terbaik Beli Emas, Kapan?
PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengungkapkan waktu terbaik untuk membeli emas di tengah fluktuasi harga.
Direktur Komersial PT Antam Handi Sutanto menegaskan bahwa emas bukan instrumen investasi jangka pendek, melainkan untuk jangka menengah hingga panjang. Karenanya, konsumen tidak perlu buru-buru saat membeli atau merasa fear of missing out (FOMO).
"Antam selama mengedukasi masyarakat, emas itu tidak pernah jangka pendek. Emas itu jangka menengah dan jangka panjang. Jadi kalau kepentingan untuk trading, spekulan lebih baik jangan," ujar Handi dalam News Hour CNN TV, Jumat (10/4).
Menurut Handi, tidak ada waktu spesifik yang harus ditunggu untuk membeli emas. Waktu terbaik justru ditentukan oleh kesiapan dana yang dimiliki masing-masing individu.
"Makanya sering sekali ditanya, kapan waktu yang terbaik untuk membeli emas, menurut kami adalah saat Anda memiliki uang," ujar Handi.
Ia juga menekankan pentingnya strategi pembelian secara bertahap untuk mengurangi risiko. Pembelian dalam jumlah besar sekaligus dinilai berisiko tinggi, terutama di tengah volatilitas harga.
"Berapapun harganya Anda beli, tapi cicil, jangan all in. Ketika all in, tentunya risiko menjadi terpapar begitu dahsyat. Lebih baik kita cicil tiap bulan," jelasnya.
Selain itu, Antam mengingatkan masyarakat agar tidak membeli emas dengan harga yang jauh di atas harga resmi. Kondisi tersebut dinilai sebagai indikasi adanya praktik percaloan di pasar.
Ia juga menyoroti FOMO yang mendorong masyarakat tetap membeli meski harga tidak wajar. Padahal, selisih harga yang terlalu tinggi dari harga resmi menjadi sinyal adanya praktik yang merugikan konsumen.
"Cuma yang kita lihat dan kita selalu edukasi kepada masyarakat, janganlah FOMO. Ketika harga resmi Antam dibandingkan harga tempat Anda mau beli, itu terpaut 10 persen, 20 persen, 30 persen. Lebih baik tidak usah beli. Lebih baik kita tunggu harga yang benar, karena itu adalah clear bagi kami praktik percaloan, yang kita mesti perangi bersama," terangnya.
Menurutnya, perilaku tersebut justru membuat praktik percaloan terus bertahan di pasar. Karena itu, masyarakat diminta lebih bijak dengan menahan diri hingga menemukan harga yang sesuai.
"Banyak orang yang memang kemudian FOMO, mereka tetap beli, sehingga praktik percaloan ini tetap hidup. Itu yang kita harus gawangi sama-sama. Lebih baik tidak usah beli, tahan dulu kalau Anda tidak ketemu dengan harga yang wajar," pungkasnya.