Geopolitik Memanas, Emas Digital Jadi Pilihan Aman Investor RI

CNN Indonesia
Sabtu, 11 Apr 2026 11:20 WIB
Tamasia, platform aplikasi digital untuk transaksi jual beli emas dengan menerapkan model bisnis syariah, mendapatkan penghargaan di Anugerah Wirausaha Indonesia (AWI). (Dok. Tamasia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tren investasi emas, terutama dalam bentuk digital, kian menguat di Indonesia di tengah memanasnya tensi geopolitik global.

Kondisi ini dipicu konflik beruntun, mulai dari Rusia-Ukraina hingga eskalasi terbaru di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).

Instrumen ini kembali dilirik sebagai pilihan aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya menegaskan lonjakan harga dan minat terhadap emas bukanlah fenomena jangka pendek, melainkan tren yang telah terbentuk dalam beberapa tahun terakhir.

"Jadi terkait dengan perkembangan yang investasi emas saat ini, memang kenaikan harga emas saat ini sebenarnya bukan kenaikan yang sesaat dari mulai 2026 kemarin, tapi sebenarnya ini dimulai dari pergerakan yang paling signifikan itu dari akhir-akhir 2023 kemudian 2024 sampai 2025 itu," ujarnya dalam wawancara bersama CNN Indonesia, Kamis (9/4).

Tren harga emas baik global maupun domestik memang tengah berada dalam fase penguatan signifikan. Di pasar dunia, harga emas saat ini bergerak di kisaran US$4.600-US$5.100 per troy ounce, bahkan sempat mencetak rekor di atas US$5.600 per ounce pada awal 2026.

Sementara itu di dalam negeri, harga emas batangan seperti Antam sudah berada di kisaran Rp2,8 juta hingga mendekati Rp3 juta per gram, bahkan sempat menembus level Rp3 juta dalam periode tertentu.

Konflik global dorong lonjakan harga emas

Menurut Tirta, salah satu pemicu utama kenaikan harga emas adalah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong pelaku pasar mencari instrumen lindung nilai yang stabil.

"Pemicu awalnya karena memang waktu itu terjadi dari yang tadinya ibaratnya dunia lagi adem-ademnya gitu ya, kemudian ada perang Ukraina-Rusia, yang kemudian dari seluruh dunia itu berpikir bahwa ini pasti bukan hanya perang antara dua negara yang notabene di Eropa Timur, pasti akan ada kelanjutan-kelanjutan lain seperti itu," jelas Tirta.

Tirta menjelaskan dalam dinamika global, sejumlah komoditas memang sejak lama menjadi instrumen investasi, salah satunya emas. Dalam situasi ketidakpastian, masyarakat cenderung kembali pada aset yang dianggap aman, sehingga emas semakin dipandang sebagai pilihan utama atau safe haven untuk melindungi nilai invetasi.

Ia menambahkan tren ini juga tercermin dari langkah sejumlah negara besar yang mulai memperkuat cadangan emas mereka sebagai strategi menghadapi ketidakpastian global.

"Seperti kayak Amerika, negara besar, itu juga membeli emas. Selain juga kalau kita lihat sejak Donald Trump itu naik, itu kan Donald Trump sendiri juga selain membeli emas, membeli juga bitcoin untuk cadangannya seperti itu. Jadi, komoditi-komoditi yang ibaratnya anti-inflasi itu menjadi komoditi ibaratnya disukai oleh beberapa negara untuk menjadi cadangan," kata Tirta.

Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan Iran dan Israel yang turut menyeret kepentingan global, sehingga mendorong harga emas kembali menguat setelah sempat terkoreksi.

Investor beralih ke emas digital yang lebih praktis
Tirta menjelaskan kenaikan investasi emas di Indonesia juga didorong oleh perubahan tren di masyarakat. Ia melihat saat ini masyarakat cenderung mencari instrumen investasi yang lebih praktis, mudah diakses, dan cepat.

Hal ini sejalan dengan tingginya penetrasi teknologi digital di Tanah Air, di mana sebagian besar penduduk Indonesia telah menggunakan gadget dan terhubung dengan internet, sehingga mendorong peralihan preferensi investasi ke platform yang lebih sederhana dan efisien.

"Mudah dan cepat dalam artian sekarang semua orang Indonesia ini kan hampir dari 280 juta, itu pasti hampir lebih dari 70 persen itu pasti sudah menggunakan gadget dan pengguna internet," tutur dia.

"Dengan kemudahan itu maka masyarakat Indonesia ingin mencari investasi tapi yang ada di platform. Salah satunya ya misalkan kripto, tapi kan kripto orang mungkin kurang paham. Kalau emas hampir semua masyarakat baik yang muda sampai tua pasti paham," lanjutnya.

Ia menjelaskan investasi emas digital dinilai lebih praktis dibandingkan pembelian fisik secara konvensional yang kerap dihadapkan pada kendala ketersediaan, antrean, hingga risiko keamanan.

"Daripada saya ngambil resiko, harus keluar, kalau pulang ngebawa emasnya, sekarang ada yang di platform, amanin di platform aja. Jadi sampai semua sekarang masyarakat itu sudah banyak transaksi, makanya 2025 sampai 2026 begitu melejitnya semua yang transaksi emas secara digital itu seperti itu," ujarnya.

Selain itu, emas dinilai memiliki karakteristik yang lebih stabil dibandingkan instrumen lain seperti kripto atau saham yang fluktuatif.

"Kalau emas ini emasnya satu. Yang logam mulia ini yang didagangin, gak ada yang lain. Ini yang membuat masyarakat merasa lebih aman karena sulit untuk digoreng," kata Tirta.

Tren investasi emas digital diproyeksi berlanjut
Tirta memproyeksikan tren investasi emas digital masih akan terus berlanjut, seiring ketidakpastian global yang belum mereda. Masyarakat dinilai semakin menjadikan emas sebagai instrumen utama untuk mengamankan nilai aset.

"Kalau kita lihat sebenarnya, di beberapa literasi, kalau terjadi gejolak, maka komoditi seperti minyak bumi, emas, dan silver itu yang akan bergerak. Sekarang emas juga sudah mulai naik lagi, apalagi dengan perkembangan geopolitik saat ini," ujar Tirta.

Tirta menilai tren investasi emas berpotensi terus berlanjut ke depan. Menurutnya, masyarakat kini cenderung bersikap lebih antisipatif terhadap ketidakpastian global, sehingga memilih instrumen yang dinilai aman. Dalam kondisi tersebut, emas diperkirakan akan semakin diminati sebagai pilihan investasi utama.

Di sisi lain, Bappebti menegaskan pentingnya menjaga integritas perdagangan emas digital melalui pengawasan ketat, terutama terkait ketersediaan underlying aset.

"Kita sebagai yang mengawasi perdagangan fisik emas secara digital di platform ini, karena kita kan juga harus memastikan bahwa platform-platform ini emasnya harus ada, karena kita sudah berjanji di dalam waktu mendapatkan izin mereka, emasnya harus satu banding satu. Ada fisiknya dengan jumlah yang ditransaksikan secara digital di platform," tegas Tirta.

Ia juga menilai ke depan perdagangan emas fisik digital akan semakin dominan dibandingkan kontrak berjangka, meski keduanya tetap saling menopang dalam ekosistem perdagangan komoditas.

"Kalau kita lihat nanti ke depan, tetap perdagangan fisik emasnya di platform akan jauh lebih tinggi dibandingkan perdagangan berjangkanya. Tapi perdagangan berjangka ini sebenarnya bisa meningkat jika fisiknya semakin meningkat," pungkasnya.

(del/bac)


Saksikan Video di Bawah Ini:

VIDEO: Harga Emas Semakin Melonjak

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK