Apindo soal Rupiah Tembus Rp17 Ribu: Importir Tertekan, Eksportir Cuan
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) membeberkan dampak pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp17 ribu per dolar AS mulai terasa di kalangan pelaku usaha.
"Ya pastilah (pelemahan rupiah sudah berdampak ke pelaku usaha). Tapi kan kayak begitu, yang importir akan tertekan, yang eksportir ya happy gitu loh dengan (rupiah terhadap dolar AS) Rp17 ribu," ujar Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (14/4).
Ia menjelaskan pelemahan rupiah memang memberi keuntungan bagi pelaku usaha berorientasi ekspor karena produk menjadi lebih kompetitif di pasar global.
Di sisi lain, kondisi ini justru menambah tekanan bagi pelaku usaha yang bergantung pada impor bahan baku.
"Karena justru saya mendengar dengan rupiah yang melemah ini, kita menjadi atraktif untuk investasi masuk, terutama yang orientasi ekspor," ujar Bob.
Kendati demikian, ia mengingatkan agar pelemahan rupiah tidak justru memperbesar biaya logistik dan operasional di dalam negeri, terutama jika masih ada transaksi yang menggunakan dolar AS.
"Cuma jangan sampai rupiah lemah ini justru membuat ongkos mahal. Misalnya pelabuhan masih pakai dolar AS gitu loh. Kita sudah pakai rupiah, yang lain-lain masih pakai dolar. Ini yang harus kita perbaiki," ujarnya.
Nilai tukar rupiah belakangan ini melemah hingga menyentuh Rp17.142 per dolar AS, menjadi salah satu level terendah sepanjang sejarah.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut pelemahan ini tidak sepenuhnya dipicu faktor global, melainkan juga sentimen domestik.
"Namun secara mengejutkan, rupiah malah melemah cukup besar, hal ini menggarisbawahi sentimen domestik yang masih sangat lemah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Ia menilai kekhawatiran terhadap defisit anggaran, penurunan cadangan devisa, hingga prospek pertumbuhan ekonomi menjadi faktor yang menekan rupiah.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menilai pelemahan rupiah masih dalam batas wajar dan tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang memburuk.
"(Rupiah) kita masih oke. Ini mencerminkan terjaganya fiskal dan moneter kita. Fondasi ekonomi kita cukup baik," ujarnya.
Menurutnya, pergerakan rupiah lebih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS di tengah ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah.