Mendag Sebut Pasokan Bahan Baku Plastik dari India-AS Sedang Menuju RI

CNN Indonesia
Jumat, 17 Apr 2026 11:15 WIB
Mendag Budi Santoso menyebut pasokan bahan baku plastik berupa nafta dari sejumlah negara alternatif tengah dalam perjalanan menuju Indonesia. (CNN Indonesia/Tunggul).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut pasokan bahan baku plastik berupa nafta dari sejumlah negara alternatif seperti India, Afrika, hingga Amerika Serikat (AS) saat ini tengah dalam perjalanan menuju Indonesia.

"Harga plastik (mahal) itu kan pertama karena imbas perang di Timur Tengah. Kita impor nafta untuk bahan baku plastik dari Timur Tengah. Tapi kita sudah dapat alternatif dari India, Afrika dan Amerika," ujar Budi di Jakarta International Expo, Jakarta Pusat, Kamis (16/4).

Nafta sendiri merupakan bahan baku utama industri petrokimia yang berasal dari hasil olahan minyak bumi. Bahan ini digunakan untuk memproduksi berbagai produk turunan seperti plastik, karet sintetis, hingga bahan kimia lain yang banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika pasokan nafta terganggu, dampaknya langsung terasa ke berbagai sektor industri, terutama yang bergantung pada kemasan plastik.

Budi menjelaskan selama ini Indonesia masih bergantung pada impor nafta dari kawasan Timur Tengah. Namun, konflik geopolitik yang terjadi membuat pasokan terganggu dan berdampak langsung pada kenaikan harga plastik di dalam negeri.

"Memang (pasokan nafta) masih dalam perjalanan. Tetapi industri kita jalan terus," lanjutnya.

Di tengah gangguan pasokan tersebut, pemerintah juga mulai mencari sumber bahan baku pengganti. Salah satunya dengan memanfaatkan gas LPG sebagai substitusi nafta untuk kebutuhan industri petrokimia.

"Nah, sekarang kita mencari juga LPG, kan bisa menggantikan nafta. Pakai LPG kita mencoba mencari dari Eurasia. Dari negara-negara di sekitar Rusia," ujar Budi.

Menurutnya, langkah diversifikasi sumber pasokan ini dilakukan agar industri dalam negeri tetap bisa berproduksi di tengah tekanan global. Budi menyebut pemerintah juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai negara untuk memastikan ketersediaan bahan baku tetap terjaga.

"Kita sudah mencoba melakukan pendekatan. Dan mudah-mudahan segera selesailah krisis ini ya. Jadi mudah-mudahan plastik juga segera turun," ujarnya.

Kenaikan harga plastik belakangan ini dipicu terganggunya pasokan nafta sebagai bahan baku utama industri petrokimia. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dirasakan secara global akibat konflik di Timur Tengah.

Di dalam negeri, lonjakan harga terlihat cukup signifikan. Harga plastik kantong naik dari sekitar Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu per pak, sedangkan plastik kemasan melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu.

Bahkan, di beberapa kasus kenaikan harga dilaporkan mencapai 30 persen hingga 60 persen, bahkan ada yang tembus dua kali lipat karena keterbatasan stok.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam menyebut kondisi ini mulai menekan dunia usaha, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor seperti plastik dan gas.

Ia memperingatkan gangguan rantai pasok berpotensi menghambat produksi di berbagai sektor, termasuk makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik.

(del/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK