Pengusaha Was-was Banjir Impor China di Tengah Perang Iran

CNN Indonesia
Jumat, 17 Apr 2026 10:45 WIB
Kekhawatiran banjir impor, khususnya dari China, menguat di kalangan pengusaha seiring lonjakan harga bahan baku yang mengerek biaya produksi dalam negeri. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kekhawatiran banjir produk impor, khususnya dari China, menguat di kalangan pengusaha seiring lonjakan harga bahan baku yang mengerek biaya produksi dalam negeri.

Kondisi ini dinilai berisiko membuat produk lokal kalah saing di pasar domestik.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Danang Girindrawardana menilai situasi tersebut menjadi ancaman serius bagi industri tekstil nasional.

"Nah, itu yang paling kami khawatirkan adalah karena komponen produksi dalam negeri untuk domestik menjadi tinggi," ujar Danang di Jakarta International Expo, Jakarta Pusat, Kamis (16/4).

Ia menjelaskan kenaikan harga bahan baku tekstil yang mencapai 30 hingga 40 persen membuat biaya produksi dalam negeri melonjak. Di sisi lain, produk impor justru berpotensi semakin membanjiri pasar karena harganya lebih murah.

"Yang kami khawatirkan justru luberan impor semakin menjadi-jadi. Jadi bukan masalah konsumen akan lebih mahal, tapi justru konsumen akan mencari bahan yang lebih murah, tidak melihat dari mana itu berangkat," lanjutnya.

Menurut Danang, daya saing industri tekstil nasional masih tertinggal dibandingkan produk impor, terutama dari China. Ia menyebut harga produk tekstil impor bisa jauh lebih murah dibandingkan produksi dalam negeri.

"Kita harus mengakui bahwa kompetitif indeks produk-produk tekstil dan garmen untuk domestik, kita masih kalah dengan produk-produk China yang masuk ke Indonesia. Mereka bisa dari China ke Indonesia, sampai ke Indonesia dengan harga yang kurang lebih separuh sampai tiga per empat lebih murah dari produksi kita. Itu berbahaya," katanya.

Selain itu, ia mengingatkan kenaikan biaya produksi tak hanya berasal dari bahan baku, tetapi juga berpotensi terdorong oleh kenaikan energi dan terganggunya rantai pasok global, terutama untuk bahan kimia turunan minyak bumi yang banyak dipasok dari Timur Tengah.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan pemerintah akan memperketat pengawasan terhadap barang ilegal yang masuk ke pasar domestik.

"Ilegal yang sudah enggak boleh, ya tadi pengawasannya, yang pertama barang ilegal itu berarti barang yang enggak boleh masuk Indonesia. Kalau dia sampai masuk itu berarti pelanggaran, termasuk kayak pakaian bekas ya," ujar Budi saat ditemui di lokasi yang sama.

Ia menilai kondisi tekanan bahan baku saat ini merupakan dampak krisis global yang tidak hanya dialami Indonesia. Kendati, ia memastikan aktivitas industri dalam negeri masih berjalan.

"Jadi enggak perlu khawatir ya, industrinya jalan terus, pasar di dalam negeri itu sudah besar banget," katanya.

Budi juga menepis kekhawatiran akan kelangkaan bahan baku secara luas. Menurutnya, hingga saat ini pasokan masih relatif aman meski terdapat tekanan harga di beberapa komoditas.

"Tidak susah ya, karena begini kan, sekarang juga masih terus berjalan. Contohnya, mungkin yang paling gampang saya kasih contoh plastik ya," ujarnya.

Kenaikan harga bahan baku tak cuma terjadi di sektor tekstil, tetapi juga industri lain yang bergantung pada impor, seperti plastik. Gangguan pasokan nafta, bahan baku utama plastik, akibat konflik di Timur Tengah mendorong harga melonjak di dalam negeri.

Di sejumlah pasar, harga plastik kantong naik dari sekitar Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu per pak.

Plastik kemasan bahkan melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu. Dalam beberapa kasus, kenaikan harga dilaporkan mencapai 30 persen hingga 60 persen, bahkan hingga dua kali lipat.

Kondisi ini membuat biaya produksi berbagai sektor meningkat dan berpotensi menekan daya saing industri dalam negeri. Hal ini memicu kekhawatiran akan membanjirnya produk impor yang lebih murah di pasar domestik.

(del/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK