Harga Minyak Goreng Naik, Tertinggi Tembus Rp60 Ribu per Liter

CNN Indonesia
Senin, 20 Apr 2026 13:24 WIB
Rata-rata harga minyak goreng seluruh kategori, baik curah, premium, maupun Minyakita, merangkak naik dari Rp19.358 per liter menjadi Rp19.592 per liter.
Rata-rata harga minyak goreng seluruh kategori, baik curah, premium, maupun Minyakita, merangkak naik dari Rp19.358 per liter menjadi Rp19.592 per liter. (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga minyak goreng di sejumlah daerah mengalami kenaikan pada pekan ketiga April 2026.

Adapun harga tertinggi dilaporkan menyentuh Rp60 ribu per liter di Kabupaten Intan Jaya, Papua. Sementara itu, harga terendah tercatat sebesar Rp15.500 per liter, yang masih berada di kisaran harga acuan nasional.

Secara nasional, rata-rata harga minyak goreng dari seluruh kategori, baik curah, premium, maupun Minyakita, ikut merangkak naik dari sekitar Rp19.358 per liter menjadi Rp19.592 per liter.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk Minyakita, harganya tercatat di kisaran Rp15.982 per liter, sedikit di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter.

Kenaikan harga ini terjadi seiring meluasnya wilayah yang mengalami tekanan. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga minyak goreng meningkat signifikan dalam sepekan terakhir.

"Minyak goreng, ini sebagai catatannya, ini peningkatannya terjadi pada 207 kabupaten/kota. Sengaja kami memberikan tanda seru, karena pada minggu keduanya itu hanya 177 kabupaten/kota, sekarang menjadi 207 kabupaten-kota," ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (20/4).

[Gambas:Youtube]

Ia menambahkan jika dipersentasekan, kenaikan tersebut sudah mencakup lebih dari separuh wilayah Indonesia.

"Kalau dipersentasekan, itu sebesar 57,50 persen wilayah Indonesia yang mengalami peningkatan harga minyak gorengnya," kata dia.

Secara keseluruhan, harga minyak goreng nasional memang tidak melonjak tajam, namun tetap mengalami kenaikan sebesar 1,21 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Di sisi lain, Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nawandaru Dwi Putra menyampaikan harga Minyakita juga mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir.

"Terkait dengan perkembangan harga komoditas Minyakita, memang ada sedikit kenaikan dalam minggu ini, yaitu sebesar Rp15.982 per liter," ujarnya dalam kesempatan sama.

Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut tidak disebabkan oleh kelangkaan pasokan.

"Dalam forum ini kami informasikan bahwa sebenarnya tidak ada kelangkaan. Untuk ketersediaan minyak goreng secara umum ini melimpah dan sangat aman," kata Nawandaru.

Ia menjelaskan pasokan minyak goreng saat ini masih ditopang oleh berbagai jenis produk yang tersedia di pasar, mulai dari minyak goreng premium hingga merek alternatif atau second brand.

Ketersediaan tersebut dinilai masih mencukupi di pasar rakyat maupun ritel modern, sehingga isu kelangkaan yang beredar di masyarakat perlu diluruskan.

Meski pasokan aman, tekanan harga tetap muncul dari sisi biaya produksi, terutama kemasan. Kenaikan harga plastik disebut berpengaruh terhadap biaya minyak goreng kemasan, yang pada akhirnya ikut mendorong harga jual di tingkat konsumen.

Dampak ini tidak hanya dirasakan pada minyak goreng, tetapi juga mulai merambat ke komoditas lain.

Salah satunya terlihat pada gula pasir yang juga mengalami kenaikan harga. Secara nasional, harga gula tercatat naik sekitar 1,31 persen dengan rata-rata mencapai Rp18.731 per kilogram.

Ateng mengungkapkan jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga gula meningkat dari 153 menjadi 171 kabupaten/kota. Ia menyebut salah satu faktor pendorongnya adalah kenaikan harga plastik yang digunakan sebagai kemasan.

"Terkait dengan gula pasir tersebut kami mengidentifikasikan salah satu pendorongnya ini dari kenaikan harga plastik karena plastik digunakan sebagai packaging atau kemasan di gula pasir," tutur Ateng lebih lanjut.

(del/ins) Add as a preferred
source on Google