Bangun Infrastruktur, SMI Alirkan Pembiayaan Rp275 T Selama 17 Tahun

CNN Indonesia
Kamis, 23 Apr 2026 12:27 WIB
PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) mencatat komitmen pembiayaan yang digelontorkan untuk pembangunan infrastruktur selama 17 tahun mencapai Rp275 triliun. Ilustrasi. (www.ptsmi.co.id).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI mencatat komitmen pembiayaan yang digelontorkan untuk pembangunan infrastruktur selama 17 tahun mencapai Rp275 triliun dengan akumulasi nilai proyek senilai Rp1.183 triliun.

Direktur Utama SMI Renyaldi Hermansjah mengungkap dukungan tersebut memberikan dampak terhadap penyerapan 10,9 juta tenaga kerja dan berkontribusi terhadap PDB nasional sebesar 0,5 persen.

"Kami percaya bahwa investasi di infrastruktur yang berkualitas memiliki peran krusial dalam meningkatkan efisiensi ekonomi, yaitu penurunan biaya, peningkatan produktivitas, percepatan arus barang dan jasa, serta mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif," ujar Reynaldi ketika memberi sambutan dalam acara Simposium PT SMI di Hotel AYANA Midplaza, Jakarta, Rabu (22/4).

Hal ini tercermin dari riset SMI Institute yang menunjukkan sektor-sektor yang dibiayai perseroan memiliki multiplier effect di atas rata-rata nasional.

Berdasarkan paparan Reynaldi, dampak ekonomi dari pembiayaan SMI terbesar berada di Jawa dengan besaran 29 persen terhadap PDRB per kapita. Selanjutnya, Sumatra sebesar 21,9 persen PDRB per kapita dan Kalimantan 20,2 persen PDRB per kapita.

Berikutnya, Maluku dan Papua sebesar 16 persen PDRB per kapita, Sulawesi 7,4 persen PDRB per kapita, serta Bali dan Nusa Tenggara 5,5 persen PDRB per kapita.

Kemudian, merujuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, kebutuhan investasi infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan diperkirakan mencapai US$625,37 miliar.

Namun, kapasitas pembiayaan dari pemerintah pusat maupun daerah belum mampu memenuhi itu. Alokasi dari APBN hanya US$143,84 miliar, sedangkan dari APBD sebesar US$104,31 miliar. Jadi, masih ada gap pendanaan sebesar US$377,2 miliar.

Reynaldi mengatakan kebutuhan pendanaan ini menunjukkan pembiayaan publik yang bersifat konvensional tidak lagi cukup memadai. Menurut dia, diperlukan inovasi yang lebih progresif melalui kolaborasi erat antara pemerintah pusat dan daerah dengan sektor swasta serta lembaga pembiayaan.

"Dalam konteks tersebut, PT SMI memiliki peran strategis sebagai development financial institution dalam menjembatani kesenjangan pendanaan infrastruktur sekaligus mendorong hadirnya skema pembiayaan yang lebih inovatif," ujarnya.

(dhz/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK