BI Layarkan 'PINISI', Jembatan Pendorong Laju Pembiayaan Ekonomi
Bank Indonesia (BI) meluncurkan program Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI) sebagai wadah untuk mempercepat penyaluran pembiayaan ke sektor riil dan proyek prioritas di tengah tekanan ekonomi global.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan PINISI dirancang sebagai jembatan strategis untuk memperkuat koordinasi dan komunikasi antar pemangku kepentingan guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
Hal itu sejalan dengan arah kebijakan untuk mendorong laju ekonomi yang mengusung tiga pesan yakni optimisme, komitmen dan sinergi (OKS).
"Melalui PINISI sebagai platform strategi penguatan komunikasi dan koordinasi untuk membangun optimisme, sekaligus menjadi wadah untuk menyelesaikan berbagai hambatan-hambatan dalam kita memberikan pembiayaan bagi perekonomian," ujar Perry dalam acara Kick Off PINISI di Komplek Perkantoran BI, Senin (27/4).
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan PINISI pada dasarnya merupakan wadah yang menjembatani kebutuhan pembiayaan dari dunia usaha dengan kapasitas penyaluran kredit dari perbankan.
"PINISI ini sebenarnya adalah bagian dari kebijakan kami yang sifatnya makroprudensial. Bagaimana kita berusaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kali ini adalah bagaimana dengan mengoptimalkan intermediasi perbankan ... Kita berusaha sebagai bridging the gap, menjembatani gap-gap yang ada, " kata Destry.
Menurutnya, inisiatif ini muncul di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, mulai dari tekanan sektor keuangan akibat capital outflow, kenaikan harga komoditas, hingga gangguan perdagangan global.
Melalui PINISI, BI bersama pemerintah dan otoritas terkait ingin mempercepat pembiayaan ke sektor-sektor potensial yang selama ini masih menghadapi hambatan, termasuk proyek strategis nasional dan sektor-sektor dengan ruang kredit yang masih besar seperti pertanian, konstruksi, dan jasa usaha.
Lihat Juga : |
Selain itu, program ini juga mendorong skema pembiayaan yang lebih inovatif, tidak hanya melalui kredit perbankan konvensional, tetapi juga kombinasi pembiayaan seperti blended finance dan skema penjaminan.
"Bisa aja enggak hanya bentuk bank lending, tapi bisa corporate finance dengan kombinasi blended finance dengan guarantee dan sebagainya," kata Destry.
PINISI juga akan dilengkapi dengan mekanisme pemantauan bersama untuk memastikan komitmen pembiayaan benar-benar terealisasi hingga tahap implementasi proyek.
Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, pelaku usaha, investor, akademisi, hingga media.
Lebih lanjut, BI menegaskan PINISI tidak berhenti pada forum diskusi, melainkan akan diwujudkan dalam bentuk konkret seperti policy dialogue, business matching, hingga pengawalan proyek secara end-to-end.
Adapun tujuan utama dari program ini adalah mendorong pembiayaan yang optimal, meningkatkan efektivitas eksekusi proyek, serta menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkualitas.
"Ultimate goals-nya adalah pertama adanya pembiayaan yang optimal dan tentunya prudent dan inovatif, jadi tidak hanya konvensional. Kemudian juga kita berharap terjadinya eksekusi proyek menjadi lebih efektif dan efisien. Kita juga berharap terjadinya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan inklusif, termasuk masyarakat yang dibawah," ujar Destry.
Pertumbuhan kredit perbankan sendiri menunjukkan tren peningkatan. Hingga Maret 2026, BI mencatat kredit tumbuh 9,49 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan Februari yang sebesar 9,37 persen.
Dari sisi permintaan, ruang ekspansi kredit masih terbuka lebar, tercermin dari besarnya undisbursed loan yang mencapai Rp2.527,46 triliun atau 22,59 persen dari total plafon kredit.
Tahun ini, BI memperkirakan kredit melaju di kisaran 8 hingga 12 persen.
(lau/sfr)