Rupiah Bakal Perkasa Lagi? Ini 7 "Senjata Rahasia" Bank Indonesia

CNN Indonesia
Rabu, 06 Mei 2026 10:36 WIB
Perry menegaskan posisi rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya, sehingga pelemahan yang terjadi lebih dipicu sentimen jangka pendek (FOTO:ANTARA/BAYU PRATAMA S).
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan nilai tukar rupiah yang kini tertekan hingga menembus Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) akan kembali stabil dan cenderung menguat.

Perry menegaskan posisi rupiah saat ini sebenarnya berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue, sehingga pelemahan yang terjadi lebih dipicu sentimen jangka pendek ketimbang memburuknya fundamental ekonomi nasional.

"Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalue, dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat," kata Perry dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5).

Menurut Perry, keyakinan itu didasarkan pada kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai masih solid, mulai dari pertumbuhan ekonomi 5,61 persen, inflasi rendah, pertumbuhan kredit yang tinggi, hingga cadangan devisa yang kuat.

Untuk mengembalikan rupiah ke jalur penguatan, Perry mengatakan BI telah melaporkan dan mendapat restu Presiden Prabowo Subianto untuk menjalankan tujuh langkah utama.

"Kami melapor kepada Bapak Presiden, dan Bapak Presiden merestui tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan," ujarnya.

Pertama, BI akan terus melakukan intervensi besar-besaran di pasar valas. Intervensi dilakukan baik secara tunai, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.

"Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup," kata Perry.

Kedua, BI mendorong aliran modal asing masuk melalui instrumen SRBI. Langkah ini ditempuh untuk menutup arus keluar dana asing dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham yang masih terjadi sejak awal tahun.

Menurut Perry, inflow dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) diharapkan bisa menahan tekanan outflow portofolio asing.

Ketiga, BI akan terus membeli SBN di pasar sekunder. Kebijakan ini dilakukan bersama Kementerian Keuangan untuk menjaga stabilitas pasar obligasi dan memastikan likuiditas tetap tersedia. Perry menyebut hingga saat ini BI telah membeli SBN dari pasar sekunder sebesar Rp123,1 triliun.

Keempat, BI menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar. Hal ini dilakukan agar kebutuhan rupiah di dalam negeri tercukupi dan pasar tidak ikut tertekan oleh kelangkaan likuiditas. Ia menyebut pertumbuhan uang primer saat ini masih tumbuh double digit, yakni 14,1 persen.

Kelima, BI memperketat pembelian dolar di pasar domestik. Setelah menurunkan batas pembelian dolar tanpa underlying dari US$100 ribu menjadi US$50 ribu per orang per bulan, BI kini menyiapkan penurunan lanjutan menjadi US$25 ribu.

"Pembelian dolar sampai dengan atau di atas 25 ribu itu harus pakai underlying," tegas Perry.

Di saat bersamaan, BI juga memperkuat diversifikasi transaksi valas melalui pengembangan pasar yuan-rupiah agar ketergantungan pada dolar AS berkurang.

Keenam, BI memperbesar intervensi di pasar offshore NDF. Tak hanya BI, bank-bank domestik juga akan diberi ruang ikut menjual valas di pasar offshore agar suplai dolar meningkat dan gejolak kurs di luar negeri bisa lebih terkendali.

"Selain intervensi yang terus kami lakukan, kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan offshore NDF di luar negeri," ujarnya.

Ketujuh, BI memperketat pengawasan pembelian dolar oleh bank dan korporasi.

Pengawas BI akan diterjunkan ke bank-bank maupun perusahaan yang aktivitas pembelian dolarnya dinilai tinggi. Langkah ini dilakukan bersama OJK untuk memastikan tidak ada lonjakan permintaan valas yang bersifat spekulatif.

"Kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," kata Perry.

(del/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK