Mendag Minta UMKM Genjot Ekspor saat Rupiah Babak Belur

tim | CNN Indonesia
Sabtu, 16 Mei 2026 16:30 WIB
Mendag Budi meminta pelaku UMKM terus mendorong ekspor di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS.
Mendag Budi meminta pelaku UMKM terus mendorong ekspor di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS. (CNN Indonesia/Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso meminta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus mendorong ekspor di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS.

Menurut Budi, pemerintah tetap optimistis terhadap kinerja ekspor Indonesia meski rupiah mengalami tekanan dan kondisi global masih penuh ketidakpastian.

"Ekspor kita memang tumbuhnya masih positif. Jadi sampai dengan Maret ini memang 0,39 persen," ujar Budi dalam konferensi pers di 86 Coffee Bakery, Jakarta Pusat, Rabu (13/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan pemerintah ingin memastikan ekspor tetap tumbuh di tengah situasi ekonomi global yang dinamis. Karena itu, Budi menyebut pihaknya terus mendorong pelaku UMKM dan eksportir mencari peluang pasar baru di luar negeri.

"Kita harapkan, dengan kondisi seperti ini, kita tetap tumbuh dengan baik. Pokoknya apapun kondisinya, kita harus terus mencari jalan keluar agar ekspor kita tetap berjalan, bahkan terus meningkat," katanya.

Budi juga mengungkapkan masih banyak pelaku UMKM yang sebenarnya memiliki produk potensial untuk pasar ekspor, namun belum memahami mekanisme ekspor maupun cara mencari pembeli dari luar negeri.

Karena itu, Kemendag saat ini aktif mempertemukan eksportir muda dan pelaku UMKM melalui berbagai program pendampingan dan pelatihan.

"Teman-teman UMKM tadi mempunyai produk tapi belum tahu caranya ekspor. Jadi kita bareng-bareng. Setelah itu kita ada program UMKM Bisa Ekspor, kemudian juga ada pelatihan," ujarnya.

Ia menjelaskan pemerintah membantu pelaku usaha kecil melakukan standardisasi produk agar dapat masuk ke pasar internasional, termasuk produk rumah tangga dan usaha ritel kecil.

"Walaupun produknya dari UMKM yang produk rumah tangga, ritel-ritel kecil, nanti kita standardisasi sehingga produk-produknya bisa masuk ke pasar ekspor," katanya.

Menurut Budi, kendala terbesar yang paling sering disampaikan pelaku UMKM adalah kesulitan mencari buyer atau pembeli dari luar negeri.

"Keluhannya kebanyakan dari teman-teman ini enggak tahu caranya ekspor, bagaimana cara mencari buyer," ujarnya.

Untuk mengatasi hal itu, Kemendag mengandalkan jaringan perdagangan Indonesia di luar negeri. Saat ini pemerintah memiliki perwakilan perdagangan di 33 negara melalui atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC).

Budi mengatakan pelaku UMKM juga dapat memanfaatkan program business matching yang difasilitasi pemerintah untuk mempertemukan penjual dan calon pembeli secara daring.

"Kita punya program UMKM Bisa Ekspor. Di dalam program itu ada business matching. Jadi teman-teman UMKM bisa jualan secara online, bisa business matching secara online melalui perwakilan kita," terang Budi.

Selain membahas ekspor, Budi turut memastikan kondisi pangan dalam negeri masih relatif terkendali meski rupiah melemah. Ia mengatakan pemerintah terus memantau harga kebutuhan pokok bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

"Tadi pagi saya ke pasar sama Pak Menteri (Koordinator Bidang) Pangan (Zulkifli Hasan). Harga kebutuhan pokok itu sebenarnya relatif stabil. Bahkan tadi ada beberapa yang di bawah HET," ujar Budi.

Bank Indonesia (BI) mengungkap pelemahan rupiah dipicu memanasnya konflik Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia serta penguatan dolar AS. Rupiah sempat berada di level Rp17.514 per dolar AS pada perdagangan Rabu (13/5).

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr) Add as a preferred
source on Google