BPS Beber Alasan Kenaikan Harga Plastik Belum Terasa di Kantong

CNN Indonesia
Senin, 18 Mei 2026 11:49 WIB
BPS mengungkapkan bobot konsumsi produk berbahan plastik dalam keranjang belanja rumah tangga lebih kecil dibandingkan listrik, bensin, hingga beras.
BPS mengungkapkan bobot konsumsi produk berbahan plastik dalam keranjang belanja rumah tangga lebih kecil dibandingkan listrik, bensin, hingga beras. (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti membeberkan alasan kenaikan harga plastik di pasaran belum terasa signifikan terhadap pengeluaran masyarakat maupun inflasi nasional.

Pasalnya, bobot konsumsi produk berbahan plastik dalam keranjang belanja rumah tangga masih jauh lebih kecil dibanding kebutuhan utama seperti listrik, bensin, hingga beras.

"Mengapa harga plastik yang di pasaran itu meningkat dan belum kemudian terasa secara langsung kepada konsumen? Karena kalau kita lihat memang bobot terbesar dari keranjang konsumsi masyarakat pertama adalah tarif listrik," ujar wanita yang akrab disapa Winny dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (18/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data BPS per April 2026, tarif listrik menjadi komoditas dengan bobot terbesar dalam keranjang konsumsi masyarakat, yakni 4,9 persen. Setelah itu disusul bensin sebesar 4,4 persen dan beras 3,4 persen.

Komoditas lain dengan bobot besar antara lain kontrak rumah 3,29 persen, sewa rumah 2,96 persen, nasi dengan lauk 2,32 persen, biaya langganan internet 2,31 persen, hingga biaya perguruan tinggi 2,17 persen.

Winny menjelaskan besarnya bobot tarif listrik membuat perubahan harga pada komoditas tersebut sangat cepat memengaruhi inflasi nasional.

[Gambas:Youtube]

"Kalau waktu ada diskon listrik itu langsung berdampak luar biasa terhadap inflasi kita yang memberikan kontribusi terhadap deflasi. Kemudian setelah kembali normal ada lonjakan inflasi karena memang tarif listrik itu bobotnya di dalam keranjang konsumsi masyarakat adalah yang terbesar," katanya.

Ia menambahkan dampak kenaikan harga bensin terhadap inflasi juga belum terlalu besar karena mayoritas masyarakat masih menggunakan bahan bakar bersubsidi.

"Kemudian terjadi kenaikan tadi bensin adalah yang berasal dari bensin non-subsidi," ujarnya.

Menurut Winny, berbeda dengan listrik atau beras, konsumsi produk plastik secara langsung dalam rumah tangga relatif kecil. Dalam daftar 20 komoditas terbesar penyumbang konsumsi masyarakat, produk plastik bahkan nyaris tidak terlihat.

Data BPS menunjukkan botol minuman plastik hanya memiliki bobot 0,0139 persen dalam keranjang konsumsi masyarakat, sementara lemari plastik hanya 0,0026 persen.

"Botol minuman plastik, lemari plastik ini bobotnya di dalam konsumsi keranjang masyarakat relatif sangat-sangat kecil," tutur Winny.

Ia menjelaskan dampak kenaikan harga plastik baru akan terasa apabila produsen makanan dan minuman mulai menaikkan harga produk yang menggunakan kemasan plastik.

"Yang dirasakan oleh konsumen adalah bukan harga plastiknya, tetapi harga air kemasannya," ujarnya.

Dalam paparan BPS, air kemasan tercatat menjadi komoditas ke-17 dengan bobot konsumsi sebesar 1,07 persen dan mengalami inflasi tahunan 1,36 persen pada April 2026.

Winny mengatakan transmisi kenaikan harga plastik terhadap inflasi sangat bergantung pada keputusan produsen untuk menaikkan harga jual produk ke konsumen.

"Transmisi kenaikan harga plastik kepada konsumen itu bergantung dari seberapa besar produsen-produsen makanan yang menggunakan plastik dalam pembungkusnya, seperti air kemasan atau kue-kue dalam plastik, kemudian menaikkan harga barangnya. Itulah yang kemudian nanti dirasakan oleh konsumen dan tercermin di dalam indeks harga konsumen," katanya.

(del/ins) Add as a preferred
source on Google