Banyak Tantangan Industri Tembakau 2025, Sampoerna Tetap Pimpin Pasar

HM Sampoerna | CNN Indonesia
Senin, 18 Mei 2026 17:37 WIB
Sampoerna mempertahankan posisi sebagai pemimpin Industri Hasil Tembakau (IHT) dengan pangsa pasar 30,7 persen dan volume penjualan 79,4 miliar batang.
(Foto: dok HM Sampoerna)
Jakarta, CNN Indonesia --

PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna/BEI: HMSP) mengumumkan hasil kinerja tahun buku 2025 melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Senin (18/5) berupa volume penjualan sebanyak 79,4 miliar batang. Sampoerna berhasil mempertahankan posisi sebagai pemimpin Industri Hasil Tembakau (IHT) Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 30,7 persen.

Sampoerna juga mencatatkan kinerja peningkatan laba bruto sebesar 11,2 persen menjadi Rp20,6 triliun, yang didukung oleh penerapan strategi penetapan harga di tengah kondisi pasar yang menantang. Laba bersih tercatat relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp6,6 triliun, mencerminkan kekuatan fundamental bisnis Perseroan, serta konsistensi dalam menjalankan fokus strategi.

"Strategi kami berfokus pada inovasi dan penguatan portofolio produk yang berorientasi pada konsumen dewasa untuk mempertahankan kepemimpinan di seluruh segmen di tengah dinamika industri yang terus berkembang. Kami juga terus menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan memperkuat hilirisasi di industri tembakau serta berkontribusi pada penciptaan nilai di seluruh rantai pasok," ujar Presiden Direktur Sampoerna, Ivan Cahyadi di Jakarta, Senin (18/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sampoerna mencatat, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan resiliensi pada 2025 dengan Industri Hasil Tembakau (IHT) terus menghadapi tantangan seiring tekanan daya beli yang berkelanjutan, diikuti berlanjutnya tren downtrading ke produk dengan harga lebih rendah, dan meningkatnya peredaran rokok ilegal. Kondisi ini tecermin dari kinerja IHT Nasional yang mengalami penurunan penjualan sekitar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dampak terbesar dirasakan pada Rokok Golongan I, yang merupakan penyerap tenaga kerja terbesar sekaligus kontributor utama terhadap penerimaan cukai negara. Pangsa pasar Rokok Golongan I telah tergerus secara signifikan, turun sekitar 22 poin dalam enam tahun terakhir, dari 80 persen pada 2019 dan mendekati 50 persen pada Kuartal I 2026.

Hal ini turut tecermin pada penurunan volume penjualan Perseroan sebesar 8,7 persen di periode yang sama, dengan penurunan volume terbesar pada kategori Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang merupakan segmen padat karya.

Ivan menyampaikan apresiasi atas keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai pada 2026 sebagai langkah strategis menjaga stabilitas industri tembakau. Kebijakan ini, yang didukung oleh upaya pemerintah dalam pemberantasan rokok ilegal, diyakini memberi ruang pelaku industri legal untuk dapat terus berkontribusi terhadap penerimaan negara dan penciptaan lapangan kerja.

"Namun, penurunan pangsa pasar di segmen Rokok Golongan 1 yang terus berlanjut dan perlindungan segmen SKT yang padat karya, perlu mendapatkan perhatian dari pemangku kepentingan. Dengan iklim usaha yang lebih kondusif, kami optimis dapat terus memperkuat ekosistem ekonomi nasional secara berkelanjutan," ujar Ivan.

Dukungan Sampoerna untuk SKT dan Perekonomian Nasional

Sampoerna secara konsisten memperkuat portofolio SKT guna menjaga mata pencaharian sekitar 70 ribu tenaga pelinting, yang sebagian besar adalah perempuan, dan bekerja di enam fasilitas produksi milik Perseroan, serta 43 fasilitas produksi yang dimiliki dan dioperasikan oleh koperasi dan pengusaha daerah yang tersebar di 35 kabupaten/kota di Pulau Jawa.

Urgensi untuk menjaga keberlangsungan segmen ini semakin nyata mengingat hasil studi Universitas Airlangga yang mencatat efek ekonomi berganda hingga 3,8 kali lipat. Artinya, setiap Rp1.000 aktivitas ekonomi yang dihasilkan fasilitas produksi SKT, berpotensi menciptakan perputaran ekonomi sebesar Rp3.800 di masyarakat sekitar.

Untuk itu, keterlibatan dan sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi penting dalam merumuskan kebijakan yang mendukung keberlanjutan industri tembakau nasional, khususnya di segmen SKT, guna menjaga ekosistem ekonomi daerah, serta melindungi puluhan ribu lapangan kerja yang bergantung pada sektor ini.

Sementara itu, dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, Sampoerna terus menciptakan nilai di seluruh rantai nilai Perseroan, mulai kemitraan dengan lebih dari 22.500 petani tembakau dan cengkih, kerja sama dengan lebih dari 1,5 juta toko ritel, serta penciptaan sekitar 90.000 lapangan kerja di Indonesia. Berdasarkan Studi Litbang Kompas pada 2025, dampak berganda aktivitas usaha Sampoerna mencapai sekitar Rp204,1 triliun per tahun atau setara dengan sekitar 1 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan rasio multiplier sebesar 1,7 kali.

Sejalan dengan kontribusi itu, Perseroan terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia sebagai kunci pertumbuhan berkelanjutan melalui berbagai inisiatif pelatihan, pengembangan talenta, serta program pembinaan dengan pengusaha UMKM lokal di seluruh Indonesia. Program tersebut antara lain Sampoerna Retail Community (SRC) yang diluncurkan pada 2008. Program ini telah membina 250.000 toko kelontong di seluruh Indonesia dan menghasilkan total omzet sebesar Rp251 triliun per tahun, setara 9,46% PDB Retail Nasional 2025.

Lalu, ada program Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) yang dimulai sejak 2007 dan telah menjangkau lebih dari 108.000 pelaku UMKM, serta program Sampoerna Karya Bangsa yang memiliki berbagai program pengembangan kapasitas, termasuk program HOPE yang telah melibatkan lebih dari 9.000 peserta dan pelatihan vokasional dengan lebih dari 1.500 peserta.

Dengan pengalaman selama lebih dari 112 tahun di Indonesia, Sampoerna terus memperkuat peran sebagai bagian integral dari perekonomian nasional melalui inovasi, keberlanjutan, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Dalam RUPST, Sampoerna juga mengumumkan pembagian dividen dari laba tahun buku 2025 dengan total sekitar Rp6,55 triliun dari saldo laba Perseroan, dengan rasio pembayaran dividen sebesar 99,95% atau Rp56,3 per saham, mencerminkan komitmen perusahaan terhadap pemegang saham.

Perubahan Susunan Direksi

Pada kesempatan yang sama, para pemegang saham menyetujui perubahan susunan Direksi Perseroan. RUPST menyetujui pengunduran diri Elvira Lianita dari jabatannya selaku Direktur Perseroan, sehubungan dengan penunjukan pada peran baru sebagai Vice President Corporate Affairs East & Southeast Asia, Pacific and PMI Global Travel Retail, Philip Morris Asia Limited.

Perseroan menyampaikan apresiasi atas kontribusi yang telah diberikan selama masa jabatan Elvira di Perseroan. RUPST juga menyetujui pengangkatan Joy Kartika Widjaja dan Virawaty sebagai anggota Direksi Perseroan, serta Umer Jawaid sebagai Direktur Perseroan yang menggantikan Johan Bink, efektif sejak RUPST 2026 ditutup.

"Perubahan dalam jajaran Direksi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Perseroan untuk memastikan kepemimpinan yang solid dan relevan dengan dinamika bisnis. Kami menyampaikan terima kasih atas dedikasi Ibu Elvira Lianita dan Bapak Johan Bink, serta mengucapkan selamat menjalankan tugas kepada Ibu Joy Kartika Widjaja, Ibu Virawaty, dan Bapak Umer Jawaid," pungkas Ivan.

(rea/rir) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]