Krisis Minyak Eropa Mengancam Sepanjang Mei Imbas Perang Timur Tengah

CNN Indonesia
Selasa, 19 Mei 2026 16:12 WIB
Potensi kelangkaan minyak Eropa dikarenakan dampak perang yang bakal membuat cadangan minyak terus menyusut dan baru akan pulih pada Desember 2027. (FOTO:ANTARA/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Ketua Eksekutif Abaxx Commodity Exchange Jeff Currie memprediksi Eropa bakal dihantam krisis minyak pada akhir bulan ini imbas perang di Timur Tengah yang terus berlanjut.

Menurut Currie potensi kelangkaan Eropa ini dikarenakan dampak perang yang bakal membuat cadangan minyak terus menyusut dan baru akan pulih pada Desember 2027.

"Kelangkaan fisik bisa menghantam Eropa kapan saja mulai sekarang," ujar Currie dalam wawancara dengan CNBC, Senin (18/5) waktu setempat, yang dikutip pada Selasa (19/5).

Ia menilai tekanan terhadap pasar minyak akan semakin besar seiring menipisnya cadangan global. Currie menyebut harga minyak berpotensi melonjak tajam ketika pasokan benar-benar mengalami gangguan serius.

"Begitu kekurangan terjadi, harga akan bergerak non-linear," katanya.

Currie menjelaskan pasar minyak saat ini sedang memasuki periode shoulder months atau masa transisi permintaan yang biasanya menjadi fase terlemah dalam siklus tahunan komoditas energi. Namun, kondisi tersebut diperkirakan berubah drastis menjelang musim liburan di Amerika Serikat dan Inggris.

Permintaan diesel, bensin, dan minyak diproyeksi melonjak saat libur Memorial Day di AS dan libur musim semi di Inggris dimulai. Kondisi itu diperkirakan akan mempercepat tekanan terhadap pasokan energi global.

"Di situlah nanti dampaknya mulai terasa," imbuh Currie.

Harga minyak sendiri kembali melonjak pada awal pekan ini setelah International Energy Agency (IEA) memperingatkan stok minyak global menyusut dengan cepat. Kekhawatiran pasar meningkat akibat terganggunya distribusi energi dari Timur Tengah.

Analis Societe Generale yang dipimpin Mike Haigh menyebut pasar minyak saat ini hanya terlihat stabil di permukaan. Menurut mereka, sistem pasokan global sebenarnya sedang berada dalam tekanan berat.

"Pasar minyak saat ini beroperasi di bawah lapisan stabilitas semu, tetapi sistem dasarnya masih berada dalam tekanan akut," tulis analis Societe Generale dalam catatannya.

(ldy/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK