Purbaya soal Rupiah Jebol Rp17.700: Dijelek-jelekin Terus di TikTok

CNN Indonesia
Selasa, 19 Mei 2026 21:08 WIB
Purbaya mengatakan narasi soal ekonomi Indonesia menuju krisis seperti 1998 banyak beredar di TikTok, imbas persepsi terhadap rupiah. (FOTO:ANTARA/M RISYAL HIDAYAT).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah belakangan ini turut dipengaruhi sentimen negatif yang ramai dibahas di media sosial. Ia mencontohkan TikTok.

Purbaya mengatakan narasi soal ekonomi Indonesia menuju krisis seperti 1998 banyak beredar di TikTok. Menurut dia, hal ini ikut memengaruhi persepsi terhadap rupiah.

"Mereka bilang menuju krisis 97-98. Banyak yang bilang gitu kan di TikTok. Saya sekarang terpaksa lihat TikTok deh karena yang lain juga lihat TikTok. (Pelemahan, red) rupiah to some extent dipengaruhi TikTok juga kelihatannya tuh. Jelek-jelekin terus," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5).

Purbaya menegaskan data penerimaan pajak hingga April 2026 justru menunjukkan kondisi ekonomi domestik masih kuat.

Ia mengungkap penerimaan pajak hingga April 2026 naik 16 persen secara tahunan, sejalan dengan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan implementasi Coretax yang diklaim semakin baik.

Menurut dia, kenaikan penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi dan PPh 21 hingga 25,1 persen menjadi salah satu indikator daya beli masyarakat masih terjaga.

"Ini kan yang menarik PPh orang pribadi dan PPh 21 kan. Ini pajak penghasilan kan, gaji karyawan. Tumbuhnya 21 persen berarti kan kuat," ujar Purbaya.

Purbaya juga menyoroti kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang tumbuh hingga 40,2 persen. Menurut dia, pertumbuhan ini menunjukkan aktivitas konsumsi dan belanja masyarakat masih tinggi.

"Ini PPN dan PPnBM yang naik tumbuhnya 40 persen menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi memang masih tinggi karena belanja dan segalanya masih tinggi tuh," ujar Purbaya.

Ia menilai data-data ini mematahkan anggapan yang menyebut ekonomi Indonesia tengah mengalami perlambatan signifikan.

"Ini semua mematahkan tuduhan bahwa ekonomi sedang melambat dengan signifikan," kata mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu.

(dhz/inz)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK