Harga Minyak Mendidih ke US$104 Buntut Pudar Harapan Damai AS-Iran

CNN Indonesia
Jumat, 22 Mei 2026 10:27 WIB
Harga minyak melonjak 2,3 persen menjadi US$104,96 per barel pada Jumat (22/5) imbas pasar meragukan peluang tercapainya kesepakatan damai AS-Iran. (Foto: AFP/ATTA KENARE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan Jumat (22/5), setelah pelaku pasar meragukan peluang tercapainya terobosan dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Ketegangan terkait stok uranium Teheran dan kendali di Selat Hormuz masih menjadi ganjalan utama dalam negosiasi kedua negara.

Harga minyak mentah Brent naik US$2,38 atau 2,3 persen menjadi US$104,96 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik US$1,73 atau 1,8 persen ke level US$98,08 per barel.

Kedua acuan tersebut sebelumnya turun sekitar 2 persen pada Kamis (21/5) dan mencatat penutupan terendah dalam hampir dua pekan terakhir. Meski demikian, pasar minyak masih berada di jalur pelemahan mingguan setelah sebelumnya sempat tertekan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Seorang sumber senior Iran kepada Reuters mengatakan belum ada kesepakatan yang tercapai dengan AS, meski jarak perbedaan antara kedua pihak mulai menyempit.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut terdapat beberapa tanda positif dalam pembicaraan, namun menegaskan sistem pungutan atau pembatasan di Selat Hormuz tidak dapat diterima.

Analis komoditas Rakuten Securities Satoru Yoshida mengatakan kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran pasar bahwa ketidakstabilan di Timur Tengah dan gangguan pasokan melalui Selat Hormuz masih akan berlangsung.

"Dengan prospek pembicaraan damai yang masih tidak pasti, harga minyak naik karena ekspektasi bahwa ketidakstabilan di Timur Tengah dan gangguan pasokan terkait Selat Hormuz akan terus berlanjut," ujar Yoshida.

Ia menambahkan harga WTI kemungkinan bergerak di kisaran US$90 hingga US$110 per barel pada pekan depan, sebagaimana tren sejak akhir Maret lalu.

Enam minggu setelah gencatan senjata rapuh diberlakukan, upaya mengakhiri konflik masih menunjukkan sedikit kemajuan. Harga minyak yang tetap tinggi juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi global.

(ldy/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK