JOGJA FINANCIAL FESTIVAL 2026

Bos LPS: Pertumbuhan Teknologi Tak Boleh Lebih Cepat dari Literasi

CNN Indonesia
Jumat, 22 Mei 2026 14:08 WIB
Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu saat menyampaikan sambutan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menekankan edukasi keuangan tidak boleh bersifat eksklusif dan harus dilakukan secara masif saat membuka acara Jogja Financial Festival di Jogja Expo Centre (JEC), Jumat (21/5).

Anggito mengatakan saat ini terjadi fenomena yang cukup mengkhawatirkan, di mana anak-anak muda mulai membuka akun investasi, namun belum mampu menyusun perencanaan keuangan.

Kemudian masyarakat semakin aktif bertransaksi digital tetapi banyak rekening yang masih pasif. Selain itu, masyarakat juga masih banyak yang terjebak pinjaman online dan judi online yang sarat teknologi.

"Kita tidak boleh membiarkan teknologi tumbuh lebih cepat daripada etika literasi dan tanggung jawab finansial terhadap bangsa. Namun kita harus tetap optimistis," ucap Anggito.

Dia juga mengingatkan, perkembangan teknologi juga membuat kejahatan keuangan menjamur, dan investasi semu yang memanfaatkan rendahnya pemahaman masyarakat juga semakin banyak. Anggito menekankan, di sinilah pentingnya literasi secara menyeluruh, terutama dengan besarnya jumlah usia produktif.

"Indonesia memiliki 190 juta penduduk usia produktif. Ini adalah bonus demografi terbesar dalam sejarah Republik Indonesia. Generasi muda Indonesia adalah generasi paling digital, paling terkoneksi dan paling kreatif yang pernah kita miliki," kata dia.

Anggito menegaskan, generasi muda bukan hanya konsumen dari teknologi keuangan, melainkan harus menjadi investor produktif, entrepreneur baru hingga pencipta inovasi.

"Pertumbuhan investasi ritel Indonesia terus meningkat setiap tahun dengan dominasi usia muda, mahasiswa dan pelajar yang semakin besar. Ini sinyal positif. Tetapi optimisme tanpa literasi dapat berubah menjadi spekulasi," ujar Anggito.

Jogja Financial Festival 2026 yang berlangsung selama 22-23 Mei, akan dihadiri lebih dari 10 ribu peserta secara fisik dari berbagai daerah, profesi, pendidikan dan lintas generasi. Festival ini pun diharapkan bisa mengubah pendekatan literasi keuangan yang tidak boleh eksklusif dan hadir dalam bahasa sederhana, populer, kreatif dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

"Karena itu kami menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif melibatkan sekolah, melibatkan kampus, komunitas kreatif, UMKM, media digital, artis nasional dan lokal hingga kegiatan olahraga," ujar Anggito.

(kum/har)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK