Wadirut Pertamina Tegaskan Peran NOC Jaga Ketahanan Energi dan Ekonomi

Pertamina | CNN Indonesia
Jumat, 22 Mei 2026 14:28 WIB
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menerima plakat usai menjadi pembicara Special Session 2 'Global Challenges NOCs at The Heart of Energy Resilience' dalam 50th IPA Convex Day 2 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (21/5). (Foto: Arsip Pertamina)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan dinamika pasar energi global, PT Pertamina (Persero) menegaskan pentingnya peran perusahaan minyak milik negara atau National Oil Company (NOC) dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Peran itu dinilai semakin strategis di tengah tantangan transisi energi yang terus berkembang.

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, dalam diskusi bertema 'Global Challenges: NOCs at the Heart of Energy Resilience' pada rangkaian IPA Convex ke-50. Menurut dia, NOC tidak hanya berfungsi sebagai entitas bisnis, tetapi juga menjalankan mandat untuk menjaga ketahanan energi dan memberi kontribusi bagi perekonomian nasional.

"Selain memberikan kontribusi bagi penerimaan negara, NOC juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga ketahanan energi. Karena itu, strategi pengembangan energi tidak hanya bertumpu pada minyak, tetapi juga perlu memperkuat peran gas bumi sebagai energi transisi yang mampu menyediakan energi lebih terjangkau dengan emisi yang lebih rendah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5).

Oki menambahkan bahwa NOC berperan menciptakan efek berantai melalui hilirisasi yang mampu membuka lapangan kerja baru. Langkah ini juga ditujukan untuk memaksimalkan nilai tambah dari sumber daya energi yang dimiliki oleh negara.

Dalam konteks tersebut, gas bumi menjadi salah satu elemen penting untuk mendukung transisi menuju sistem energi rendah emisi. Pertamina pun terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, mitra strategis, dan lembaga pembiayaan guna mencapai target tersebut.

Sinergi yang kuat antara negara dan korporasi dinilai menjadi faktor penentu dalam menciptakan ketahanan energi jangka panjang. Oki mencontohkan keberhasilan pengembangan proyek LNG Mozambique yang mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Jepang melalui berbagai instrumen kebijakan.

Pemerintah Jepang terlibat langsung dalam memperkuat keekonomian proyek melalui partisipasi ekuitas, pembiayaan, asuransi, hingga jaminan serapan pasar jangka panjang. Pola kolaborasi seperti ini dinilai dapat menjadi contoh dalam mengeksekusi proyek energi berskala besar.

"Contoh global menunjukkan bahwa proyek energi strategis membutuhkan arsitektur dukungan yang kuat. Pemerintah dapat berperan melalui pembiayaan, asuransi, kepastian pasar, dan kebijakan yang membuat proyek menjadi bankable. Dengan begitu, NOC dapat menjalankan mandat ketahanan energi secara lebih efektif, tetapi tetap menjaga disiplin investasi," kata Oki.

Di sisi lain, Pertamina menyoroti pentingnya peningkatan produksi migas domestik untuk memperkecil celah antara kapasitas pengolahan dan produksi. Saat ini, kapasitas pengolahan kilang Pertamina mencapai 1 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak mentah sekitar 600 ribu barel per hari.

Untuk mengatasi selisih tersebut, perusahaan menjalankan berbagai inisiatif peningkatan produksi dan memperkuat portofolio gas bumi domestik. Pertamina juga mulai mengembangkan portofolio internasional secara selektif demi memperkuat pasokan energi dalam negeri serta mengejar nilai ekonomi.

Sebagai perusahaan energi terintegrasi dari hulu ke hilir, Pertamina memanfaatkan infrastruktur dan pengalaman panjangnya untuk membangun daya saing global. Kemitraan strategis kemudian digunakan sebagai sarana efektif untuk mengurangi risiko investasi dan mempercepat peluang usaha baru.

Pertamina juga melihat kawasan ASEAN sebagai pasar yang sangat atraktif karena memiliki pertumbuhan permintaan energi yang kuat dan stabilitas politik. Dukungan dari regulator di kawasan ini dianggap menjadi faktor kunci dalam menjaga kelancaran arus investasi energi ke depan.

"ASEAN menjadi kawasan yang menarik bagi investasi karena memiliki pasar yang besar, pertumbuhan permintaan energi yang kuat, serta kondisi yang relatif stabil. Dukungan regulator dan para pemangku kepentingan juga menjadi faktor penting dalam menjaga arus investasi ke kawasan ini," tutup Oki.

(rir)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK