Ekonom soal Pelemahan Rupiah: Jangan Terus Salahkan Global

CNN Indonesia
Sabtu, 23 Mei 2026 12:40 WIB
Warga menukarkan uang di Money Changer, Kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa (20/1/2026). (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Josua menyebut pelemahan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi persoalan domestik yang sudah muncul bahkan sebelum konflik Timur Tengah memanas. (Foto: CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Makassar, CNN Indonesia --

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengingatkan pemerintah tak terus-menerus menyalahkan faktor global atas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Menurutnya, tekanan terhadap mata uang Garuda juga dipengaruhi persoalan domestik yang sudah muncul bahkan sebelum konflik Timur Tengah memanas.

"Jangan terus menyalahkan global. Dan jangan marah-marah pada saat wartawan menanyakan kalau ada permasalahan domestik," ujar Josua dalam Pelatihan Media Bank Indonesia di Makassar, Jumat (22/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan pelemahan rupiah memang dipicu kombinasi tekanan global dan domestik. Dari sisi global, ada empat risiko utama yang membayangi ekonomi dunia, yakni meningkatnya ketegangan geopolitik, ketidakpastian perang dagang, arah suku bunga global, dan perlambatan ekonomi China.

Menurut Josua, konflik Timur Tengah memberikan tekanan besar kepada Indonesia karena Indonesia merupakan net importir minyak sejak keluar dari OPEC pada 2004.

"Mengapa Timur Tengah ini rambatannya kepada energi itu jelas kepada Indonesia karena kita net oil importer," katanya.

Ia mengatakan lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah berdampak langsung terhadap fiskal dan nilai tukar rupiah karena asumsi APBN juga bergantung pada harga minyak mentah dan kurs.

Dalam paparannya, Josua menilai pelemahan rupiah tahun ini juga tidak sepenuhnya sejalan dengan pergerakan dolar AS global. Berdasarkan data Permata Bank, indeks dolar AS (DXY) secara year to date hanya menguat sekitar 0,9 persen, sementara rupiah melemah lebih dari 5 persen.

"Yang lebih menariknya, kita hanya menguat terhadap rupee India. Selebihnya kita melemah terhadap semua mata uang Asia," ujarnya.

Ia menyoroti rupiah bahkan melemah lebih dalam terhadap ringgit Malaysia dan dolar Singapura. Josua juga mengkritik pandangan yang menyebut pelemahan rupiah menguntungkan ekonomi Indonesia karena bisa mendongkrak ekspor. Anjloknya rupiah jutsru membebani industri manufaktur karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku.

"Itu pernyataan yang menyesatkan kalau kita bicara bahwa Indonesia diuntungkan dengan adanya kelemahan rupiah," katanya.

Lihat Juga :

Josua mengungkap alarm terhadap ekonomi Indonesia sebenarnya sudah menyala sebelum konflik Timur Tengah pecah. Ia mencontohkan peringatan dari MSCI sejak awal tahun terkait transparansi pasar modal Indonesia. MSCI bahkan menghapus 19 saham Indonesia dari indeksnya pada Mei 2026, terdiri dari 13 saham small cap dan enam saham standard.

Josua menilai risiko terbesar bukan Indonesia turun menjadi frontier market, melainkan penurunan bobot Indonesia di indeks MSCI.

"Probability untuk weighting Indonesia diturunkan itu lebih besar ketimbang untuk kita diturunkan menjadi frontier market," ujarnya.

Selain itu, dua lembaga pemeringkat internasional, Moody's dan Fitch, telah lebih dulu merevisi outlook Indonesia menjadi negatif sebelum perang Timur Tengah memanas. Kondisi tersebut menunjukkan investor global mulai mencermati persoalan fiskal domestik Indonesia.

"Jelas-jelas di sini sudah ada assessment yang concern bahwa ada tekanan dari fiskal dan bahkan sebelum perang," katanya.

Ia mengatakan salah satu perhatian utama investor asing adalah rendahnya rasio pajak terhadap PDB Indonesia. Dalam paparannya, tax ratio Indonesia hanya sekitar 13,3 persen, jauh di bawah median negara peers berperingkat BBB yang mencapai 25,5 persen.

Selain itu, beban bunga utang pemerintah juga terus meningkat. Permata Bank mencatat beban bunga utang pada 2026 diperkirakan mencapai Rp599,4 triliun atau sekitar 19 persen dari pendapatan negara.

"Ruang fiskal kita ini makin menyempit," ujar Josua.

Ia menegaskan investor asing tetap penting bagi Indonesia karena secara struktural transaksi berjalan Indonesia masih defisit dan membutuhkan surplus di financial account untuk menopang neraca pembayaran.

"Selama current account kita masih defisit, apakah kita bisa tutup mata dari investor asing? Tentu tidak," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(lau/pta) Add as a preferred
source on Google