CEO Vale Was-was Kampanye Negatif Bikin Nikel RI Senasib Kobalt Kongo
Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto khawatir kampanye negatif terhadap nikel di Indonesia bakal membuat komoditas tambang ini dijauhi pasar global.
Menurutnya, apabila persepsi negatif terhadap nikel RI terus berkembang, maka pasar internasional bakal minggat. Ia tak ingin nasib nikel Indonesia berakhir seperti kobalt di Kongo yang tak diminati pasar global dan mencari negara pemasok kobalt yang dinilai 'lebih bersih'.
"Yang paling saya takutkan adalah ketika orang-orang mulai aware bahwa nikel itu nggak bagus dan ini mulai dinarasikan di mana-mana. Seperti katakanlah ada produksi kobalt di Kongo, orang mulai menjauhi kobalt karena kampanye tentang kobalt di Kongo itu diprodiksi secara tidak bertanggungjawab itu mencuat," kata Irmanto dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di JEC, Bantul, DIY, Sabtu (23/5).
Kobalt merupakan bahan baku penting untuk baterai kendaraan listrik dan elektronik. Kongo memasok sekitar 70 persen lebih produksi kobalt dunia.
Lihat Juga :JOGJA FINANCIAL FESTIVAL 2026 Bos BRI Ungkap Tantangan Baru Perbankan |
Ia menambahkan Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar dunia harus mampu memastikan proses penambangan dilakukan dengan baik agar tidak memunculkan stigma negatif terhadap nikel.
"Saya juga tidak mau tentu semua tidak mau, nikel deposit terbesar di Indonesia itu menjadi tidak berguna karena orang mulai menjauhi nikel karena proses penambangannya yang jelek," ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen keberlanjutan, PT Vale menargetkan dampak positif terhadap lingkungan, khususnya terkait hutan dan biodiversitas. Perusahaan menerapkan prinsip net positive terhadap hutan dan no net loss biodiversity.
"Maka PT Vale berani mengatakan saya ingin memposisikan PT Vale itu dalam hal hutan dampak terhadap hutan dan biodiversity itu net positive. Jadi kalau kita membuka lahan satu hektare, bagaimana kita bisa memperbaiki hutan 1,5 hektare deh. Jadi ada net positive-nya," ujarnya.
Selain itu, PT Vale juga menaruh perhatian pada kualitas air di sekitar area operasional. Irmanto mengklaim kualitas air limpahan dari perusahaan bahkan lebih baik dibandingkan standar yang berlaku di RI maupun internasional.
"Kita yakin, pede bahwa nikel yang diproduksi PT Vale itu bukan hanya komoditas, tapi bener-bener itu driver dari agenda dari transisi energi. Kan nggak elok kita bicara mendrive transisi energi tapi cara kita memproduksi nikel itu merusak lingkungan, itu nggak elok," tutur Irmanto.
Ia menegaskan nikel yang diproduksi Vale merupakan nikel yang diproduksi secara bertanggung jawab (responsible) dan berkelanjutan (sustainable).
Menurutnya, komitmen tersebut menjadi prinsip utama perusahaan di tengah meningkatnya sorotan dan kampanye negatif terhadap industri nikel di Indonesia. Irmanto menegaskan bahwa PT Vale turut ambil bagian dalam agenda transisi energi.
"Saya berani menyampaikan ke publik bahwa nikel yang diproduksi PT Vale Indonesia itu adalah responsible nikel atau sustainable nikel," tegasnya.
Ia menilai tidak semua produk nikel dapat disamaratakan. Menurutnya, proses produksi menjadi faktor penting dalam menentukan apakah suatu nikel diproduksi secara berkelanjutan atau tidak.
Vale menjadikan aspek 'how' dan 'why' dalam proses produksi sebagai kompas utama perusahaan. Hal tersebut dilakukan untuk menjawab berbagai tudingan negatif terhadap industri nikel, mulai dari isu kerusakan hutan, hilangnya biodiversitas, pencemaran air, hingga polusi udara.
Perusahaan tidak hanya ingin memperbaiki narasi mengenai industri nikel, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab nyata terhadap lingkungan.
Lihat Juga :Jogja Financial Festival 2026 Misbakhun Ungkap Ekonomi RI Ibarat Cerita Kopi, Gula dan Susu |