Pertamina dan ERIA Jalin Kemitraan Strategis untuk Transisi Energi
PT Pertamina (Persero) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA). Kerja sama ini berfokus pada pengembangan jalur transisi energi yang berkelanjutan.
Kedua pihak menyepakati komitmen tersebut melalui penandatanganan Nota Kesepahaman di rangkaian acara IPA Convex 2026. Langkah ini memperkuat sinergi pemangku kepentingan dalam mendukung kemandirian energi nasional.
Proses penandatanganan dilakukan oleh Direktur Strategi, Portfolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini. Ia didampingi oleh Chief Operating Officer ERIA, Dr. Takayuki Yamanaka, dalam peresmian tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emma menegaskan bahwa kerja sama ini sejalan dengan dua pilar utama strategi bisnis Pertamina, yakni mengoptimalkan bisnis eksisting berbasis energi fosil sekaligus mempercepat pengembangan bisnis rendah karbon.
"Kemandirian energi dan transisi energi merupakan dua strategi yang dijalankan oleh Pertamina secara bersamaan. Kedua hal ini memperkuat satu dengan yang lainnya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/5).
Ia melanjutkan, Pertamina saat ini tengah menerapkan Dual Growth Strategy secara konsisten dalam operasionalnya. Strategi tersebut memayungi dua pilar utama bisnis yang dijalankan perusahaan secara paralel.
Pilar pertama fokus mengoptimalkan bisnis eksisting yang berbasis pada energi fosil. Sementara pilar kedua bergerak mempercepat pengembangan bisnis rendah karbon untuk masa depan.
"Melalui kemitraan dengan ERIA, Pertamina akan memperoleh dukungan berupa kajian kebijakan berbasis riset, analisis ekonomi energi yang komprehensif," kata Emma.
Kerja sama ini juga memprioritaskan pengembangan kapasitas institusional kedua belah pihak. Selain itu, terdapat agenda pertukaran pengetahuan secara berkala untuk memperkuat kapabilitas internal.
Implementasi seluruh poin Nota Kesepahaman akan dilaksanakan oleh Pertamina Energy Institute. Lembaga tersebut merupakan internal think tank strategis yang dimiliki oleh Pertamina saat ini.
ERIA sendiri merupakan think tank internasional yang berdiri sejak tahun 2007 lalu. Fokus utamanya terletak pada dimensi ekonomi serta kebijakan di kawasan Asia Tenggara.
"Dengan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk di dalamnya lembaga pemikir level internasional akan meningkatkan kapasitas para pihak," tutupnya.
Lembaga riset ini mendapat dukungan dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang. Reputasinya diakui secara luas dalam analisis kebijakan energi tingkat regional.
Melalui kolaborasi tersebut, Pertamina berupaya memperkuat posisi strategisnya di kancah regional. Langkah ini penting dalam merespons dinamika transisi energi global yang terus bergerak.
Sebagai informasi, pada sesi yang sama, Pertamina Grup juga menyepakati sejumlah kerja sama strategis lainnya. Salah satunya adalah kesepakatan JSA CCS Amonia lintas badan usaha milik negara.
Kerja sama tersebut melibatkan PHE, Perusahaan Gas Negara, serta PT Pupuk Indonesia. Sinergi ini menegaskan komitmen bersama dalam dekarbonisasi industri nasional.
PHE juga menyepakati HoA CCS Asri Basin bersama Exxon untuk memperluas jangkauan operasional. Penandatanganan ditutup dengan kesepakatan MoU CCS wilayah kerja antara Pertamina, PHE, dan ERIA.
(rir) Add
as a preferred source on Google