IESR Ungkap Strategi Jitu Capai Target PLTS 100 GW dalam Lima Tahun

CNN Indonesia
Sabtu, 30 Mei 2026 05:00 WIB
IESR mengusulkan pemerintah fokus menyiapkan fondasi regulasi hingga rantai pasok untuk mengejar target pembangunan PLTS 100 GW dalam lima tahun.
IESR mengusulkan pemerintah fokus menyiapkan fondasi regulasi hingga rantai pasok untuk mengejar target pembangunan PLTS 100 GW dalam lima tahun. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Institute for Essential Services Reform (IESR) mengusulkan pemerintah fokus menyiapkan fondasi regulasi hingga rantai pasok dalam dua tahun pertama demi mengejar target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) dalam lima tahun.

CEO IESR Fabby Tumiwa mengatakan pihaknya diminta membantu Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyusun strategi implementasi program tersebut agar terintegrasi dengan program pemerintah yang sudah berjalan.

"Kami diminta bantuan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk memikirkan strategi implementasinya gimana," ujar Fabby dalam Diskusi Indonesia Kejar Target PLTS 100 GW di Hotel Double Tree, Jumat (29/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, sejak September tahun lalu, IESR mulai menyusun kajian dan berkonsultasi dengan berbagai kementerian serta lembaga yang terlibat dalam program ini, mulai dari Kementerian ESDM, Kementerian Koperasi, hingga Kementerian Perindustrian.

Fabby mengatakan tantangan utama target PLTS 100 GW bukan pada kemampuan teknis Indonesia, melainkan kesiapan faktor pendukung (enabling factors).

"Kesimpulan saya, constraint-nya itu bukan pada kita nggak mampu," katanya.

Ia menjelaskan pembangunan PLTS skala besar tidak bisa dilakukan secara instan tanpa perencanaan matang. Menurutnya, pemerintah harus lebih dulu menentukan lokasi pembangunan, kebutuhan listrik desa, hingga model bisnis yang akan digunakan.

"Jadi kami coba menyusun yang namanya roadmap-nya. Tentunya kalau kita mau membangun 100 gigawatt itu enggak bisa kayak kita membangun Candi Prambanan. Sehari semalam jadi pake bantuan jin," jelasnya.

IESR pun mengusulkan dua tahun pertama difokuskan pada fase persiapan sebelum pembangunan masif dilakukan. Persiapan itu mencakup regulasi, kelembagaan, rantai pasok, standar kinerja, hingga model bisnis.

"Kunci keberhasilannya untuk bisa deliver dalam waktu 5 tahun, itu adalah di fase perencanaan, persiapan," kata Fabby.

Selain itu, IESR juga mengusulkan pendekatan modular dan plug and play agar pembangunan PLTS bisa dilakukan lebih cepat. Fabby mencontohkan sistem baterai dan infrastruktur pendukung dapat dibuat dalam bentuk kontainer siap pakai.

"Jadi misalnya gini, 1 MW itu baterainya udah disiapin. Bisa dihitung kebutuhan misalnya baterainya per 2 MWh gitu. Kita buat dengan struktur container gitu ya, yang sudah plug and play," terangnya.

Fabby juga menilai program dieselisasi atau penggantian pembangkit diesel PLN menjadi PLTS bisa menjadi langkah awal percepatan proyek tersebut. Menurut dia, program itu sebenarnya sudah berjalan sejak 2022, namun realisasinya masih tertahan.

"Sudah dilelang. Tapi sejak hasil lelangnya 2023, sampai sekarang nggak ditetapkan pemenangnya karena masih mahal," imbuhnya.

Ia kemudian mencontohkan Vietnam dan India yang dinilai berhasil mempercepat pengembangan energi surya karena dukungan regulasi dan pembangunan industri dalam negeri.

Menurutnya, target besar transisi energi hanya bisa tercapai apabila pemerintah serius membenahi faktor pendukung dan mempercepat pengambilan keputusan.

"Indonesia tuh kalau masalahnya nih, mimpi doang. Enabling factor-nya enggak diurusin yang bener. Kita kelamaan diskusi, regulasi, undang-undang, peraturan," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/sfr) Add as a preferred
source on Google