Rupiah Lemah, Apa Untung Rugi Bagi Eksportir, Impor, dan Dompet Kita?
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi belakangan ini mendatangkan sejumlah dampak bagi eksportir, importir, hingga masyarakat secara umum.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan eksportir memang bisa merasakan keuntungan dari pelemahan rupiah.
"Pelemahan rupiah memang dapat memberi keuntungan kurs bagi eksportir karena pendapatan dolar bernilai lebih besar saat dikonversi ke rupiah," ujar Syafruddin kepada CNNIndonesia.com, Jumat (29/5).
Eksportir komoditas, manufaktur berorientasi ekspor, dan perusahaan dengan biaya domestik besar dinilai dapat menikmati tambahan margin dari depresiasi rupiah.
Namun, eksportir tidak otomatis meraih keuntungan lebih besar.
Syafruddin mengingatkan banyak eksportir masih memakai bahan baku impor, mesin impor, energi berbasis harga global, dan pembiayaan valuta asing.
"Jika biaya input dolar ikut naik, keuntungan kurs dapat terkikis," ujarnya.
Berdasarkan data yang dimiliki, ekspor barang dan jasa tumbuh lebih lambat daripada impor, sehingga pelemahan rupiah belum tentu langsung mendorong kinerja ekspor secara kuat.
Eksportir disebut hanya benar-benar memperoleh manfaat jika mereka memiliki kandungan lokal tinggi, kontrak ekspor stabil, utang valas terkendali, dan akses pasar global yang kuat.
Di sisi lain, importir menjadi pihak yang sudah tentu dirugikan karena paling cepat merasakan tekanan pelemahan rupiah.
Ketika rupiah bergerak ke sekitar Rp17.865 per dolar AS dan pasar forward mengarah ke level lebih tinggi, importir harus menyediakan rupiah lebih besar untuk membeli dolar.
"Beban ini langsung masuk ke harga bahan baku, barang modal, barang konsumsi impor, obat-obatan, komponen elektronik, pangan tertentu, dan energi," ujar Syafruddin.
Industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri, kata dia, menghadapi tekanan margin karena biaya produksi naik lebih cepat daripada kemampuan menaikkan harga jual.
Jika perusahaan menahan harga, laba turun. Jika perusahaan menaikkan harga, permintaan dapat melemah.
Oleh karena itu, Syafruddin mengatakan pelemahan rupiah memaksa industri memperkuat lindung nilai, memperbesar kandungan lokal, memperbaiki efisiensi, dan menata ulang rantai pasok agar tidak terus menjadi korban volatilitas kurs.
Sementara itu untuk masyarakat biasa, pelemahan rupiah ini disebut dapat merugikan dompet warga melalui jalur harga, cicilan, pendapatan riil, dan ekspektasi.
Lihat Juga : |
"Masyarakat mungkin tidak langsung membeli dolar, tetapi mereka membeli barang yang memakai komponen impor," ujar Syafruddin.
Harga elektronik, kendaraan, obat-obatan, bahan pangan tertentu, produk energi, biaya pendidikan luar negeri, perjalanan internasional, dan barang konsumsi modern dinilai dapat naik saat rupiah melemah.
Jika biaya produksi naik, produsen akan menyalurkan sebagian beban ke konsumen.
Selain itu, jika suku bunga tetap tinggi untuk menjaga rupiah, Syafruddin mengungkap kredit kendaraan, KPR, pinjaman usaha, dan biaya modal juga ikut terasa lebih berat.
Ia mengatakan inflasi saat ini masih terkendali di sekitar 2,42 persen, tetapi pelemahan rupiah dapat menggerus daya beli jika berlangsung lama.
"Jadi, masyarakat membayar pelemahan rupiah bukan hanya di money changer, melainkan juga di pasar, toko, cicilan, dan tagihan rumah tangga," ujar Syafruddin.
Kenaikan harga barang dalam negeri karena pelemahan rupiah bakal terjadi jika tekanan kurs bertahan dan pelaku usaha mulai menyesuaikan harga jual.
Risiko terbesar muncul pada barang dengan kandungan impor tinggi, bahan baku industri, energi, pangan impor, obat-obatan, elektronik, dan barang konsumsi tahan lama.
Syafruddin mengungkap inflasi masih menunjukkan kondisi terkendali dengan angka tahunan sekitar 2,42 persen dan angka inti sekitar 2,44 persen.
Angka itu dinilai memberi ruang bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas.
Namun, impor barang dan jasa tumbuh lebih cepat daripada ekspor, sehingga ekonomi tetap memiliki eksposur impor yang besar.
Jika rupiah terus berada dekat level terlemah dan forward/NDF memberi sinyal pelemahan lanjutan, Syafruddin menilai tekanan harga secara bertahap tetap akan muncul.
"Pemerintah perlu menjaga pasokan, menahan biaya logistik, memperkuat stabilisasi pangan, dan memastikan kebijakan kurs tidak terlambat merespons ekspektasi pasar," ujar Syafruddin.
(dhz/sfr)