Uang Receh Dianggap Sepele, Kalau Dikumpulkan Bisa Jadi Apa?

CNN Indonesia
Minggu, 31 Mei 2026 07:30 WIB
Uang receh jika dikumpulkan secara rutin bisa menjadi tabungan yang lumayan.
Uang receh jika dikumpulkan secara rutin bisa menjadi tabungan yang lumayan. Ilustrasi. (Skitterphoto/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia --

Uang receh Rp100, Rp200, Rp500 atau Rp1.000 kerap dibiarkan menumpuk di laci, celengan, hingga dashboard kendaraan. Padahal, jika dikumpulkan secara rutin, nominal kecil itu bisa berubah menjadi tabungan yang lumayan.

Misalnya menyisihkan Rp2.000 per hari, dalam sebulan, jumlahnya sudah mencapai sekitar Rp60 ribu. Jika konsisten selama setahun, totalnya bisa menyentuh Rp730 ribu.

Perencana keuangan OneShildt Agustina Fitria mengatakan kebiasaan menyimpan uang receh masih relevan hingga saat ini, terutama untuk masyarakat yang masih banyak bertransaksi tunai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sampai saat ini masih banyak pembayaran yang memerlukan cash seperti parkir atau di pasar tradisional dan pedagang keliling," kata Agustina kepada CNNIndonesia.com, Jumat (29/5).

Menurutnya, penggunaan uang fisik untuk menabung juga masih cocok diterapkan kepada anak-anak dan remaja sebagai sarana edukasi keuangan sejak dini.

"Penggunaan uang fisik untuk menabung bisa digunakan pada anak-anak dan remaja," ujarnya.

Sementara untuk orang dewasa yang sudah memiliki akses perbankan, menabung dapat dilakukan melalui rekening atau dompet digital.

Meski begitu, kebiasaan menyimpan uang receh tetap dinilai bermanfaat, terutama bagi ibu rumah tangga yang masih rutin berbelanja di pasar tradisional.

"Untuk ibu-ibu yang masih banyak berbelanja di pasar tradisional atau pedagang keliling juga bisa menabung uang fisik. Setelah mencapai jumlah tertentu bisa diinvestasikan, misalnya beli emas," katanya.

Agustina menilai penggunaan uang logam kini memang semakin berkurang seiring pergeseran masyarakat ke pembayaran digital. 

Selain dinilai lebih praktis, nominal transaksi di pusat perbelanjaan juga sering tidak genap sehingga masyarakat lebih memilih pembayaran non tunai.

"Uang logam cenderung lebih sulit disimpan dibandingkan kertas. Selain itu, nilai transaksi di supermarket sering menggunakan nominal tidak genap sehingga lebih praktis menggunakan digital," jelasnya.

Meski mulai jarang digunakan, uang receh sebenarnya tetap bisa ditukar menjadi uang kertas.

Bank Indonesia (BI) menyediakan layanan penukaran uang melalui kas keliling maupun layanan penukaran lainnya.

Dalam laman resminya, BI menyebut penukaran uang logam dapat dilakukan maksimal sebanyak 250 keping untuk setiap pecahan. Sementara penukaran uang kertas dilakukan dalam kelipatan 100 lembar sesuai alokasi yang tersedia.

Selain penukaran uang receh, BI juga melayani penukaran uang rusak atau cacat, penjualan dan penukaran uang rupiah khusus, hingga penukaran uang rupiah yang sudah dicabut atau ditarik dari peredaran.

Bagi masyarakat yang ingin melakukan penukaran melalui kas keliling, BI mengharuskan penukar membawa bukti pemesanan serta menyiapkan uang sesuai nominal yang telah didaftarkan sebelumnya.

Selain melalui layanan BI, penukaran uang logam juga bisa dilakukan di sejumlah minimarket.

Praktiknya, masyarakat biasanya menukarkan koin dalam jumlah tertentu untuk kemudian dibelanjakan langsung atau ditukar dengan uang kertas, tergantung kebijakan masing-masing gerai.

Kehadiran layanan ini membantu masyarakat yang kesulitan menggunakan uang receh dalam transaksi sehari-hari.

[Gambas:Video CNN]

(lau/sfr) Add as a preferred
source on Google