IHSG Nyungsep Nyaris 5 Persen Siang Ini, Apa Biang Keroknya?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah hampir 5 persen pada sesi I perdagangan Rabu (3/6).
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan koreksi IHSG pada penutupan sesi I karena adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sudah menembus Rp17.900 per dolar AS.
Herditya juga menyampaikan pergerakan IHSG juga dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi yang bergerak menguat signifikan selama dua hari ke belakang.
"Di sisi lain, pergerakan IHSG dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami auto reject atas," ujar Herditya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (3/6)
Dari sisi teknikal, ia menilai pergerakan IHSG masih berada di fase downtrendnya.
"Dari sisi teknikal, pergerakan JCI masih berada di fase downtrendnya dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid," tambahnya.
Sementara itu, Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi menilai IHSG terkoreksi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah dengan dolar Amerika Serikat (AS) merupakan bentuk komplikasi.
Ia mengatakan komplikasi dari segi eksternal berkaitan dengan konflik Timur Tengah yang berdampak terhadap naiknya harga minyak mentah.
"Sehingga berdampak pada harga-harga yang terus mengalami kenaikan, membuat inflasi tetap tinggi. Inflasi tinggi kemungkinan besar bank sentral global akan menaikkan suku bunga, mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga," kata Ibrahim.
Lihat Juga :PODCAST MONEY HONEY Menteri Dody Blak-blakan Disogok hingga Dipelonco di Kementerian PU |
Ibrahim pun menyinggung dari segi internal berkaitan dengan data terbaru inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.
"Untuk kita lihat bahwa untuk inflasi sendiri ini sentimennya itu mengalami saya anggap ini adalah inflasi ini adalah terburuk ya," ungkapnya.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami inflasi 3,08 persen pada Mei 2026 (year-on-year/yoy) sedangkan secara bulanan inflasi tercatat 0,28 persen.
Kemudian, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$89,1 juta pada April 2026. Namun, realisasi ini jauh lebih rendah dibandingkan Maret yang surplus US$3,32 miliar.
Ibrahim menggarisbawahi bahwa tekanan pada daya beli masyarakat dan ketahanan eksternal ini yang membuat neraca perdagangan terjadi surplus, meski cenderung menyempit. Menurutnya, hal ini membuat investor asing kembali meninggalkan saham-saham di Indonesia.
"Sehingga terjadilah arus modal asing yang keluar dan membuat indeks harga saham gabungan dalam perdagangan sesi pagi, ya ini mengalami pelemahan," terang Ibrahim.
Mengutip RTI Infokom, IHSG anjlok 4,94 persen atau 305,9 poin ke level 5.889 pada pukul 12.00 WIB. Sebanyak 714 saham terkoreksi, 35 menguat, dan 64 stagnan.
Pada pembukaan, IHSG sempat menguat ke level 6.207 dan menyentuh level tertingginya 6.213, tetapi terus melanjutkan pelemahan hingga level terendah 5.876.
Pada penutupan sesi I, investor melakukan transaksi sebesar Rp14,89 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 26,37 miliar saham, dan frekuensi transaksi sebanyak 1,798 juta kali.
(fln/pta)