Indonesia Teken Barter Dagang Tekstil dan Baja dengan Filipina

CNN Indonesia
Selasa, 09 Jun 2026 04:30 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa, 26 Oktober 2021. Menteri Keuangan Sri Mulyani pada Senin (25/10) mengatakan terjadi surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar 4,37 miliar dolar AS pada akhir Kuartal III
Indonesia dan Filipina menyepakati skema imbal dagang atau barter terhadap impor dan ekspor barang. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia dan Filipina menyepakati skema imbal dagang atau barter terhadap impor dan ekspor barang.

Adapun skema barter dagang ini disetujui melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Trade Barter Indonesia sebagai agen barter Indonesia dengan pelaku usaha Filipina.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan Indonesia akan mengimpor komoditas serat abaka dari Filipina yang kemudian diolah menjadi tekstil oleh perusahaan anggota Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Barang jadi berupa tekstil tersebut akan kembali diekspor ke negara tersebut.

"Hari ini kita menyaksikan penandatanganan antara pelaku usaha Indonesia dan Filipina dengan sistem barter. Jadi, kita impor serat abaka ini untuk bahan baku tekstil," ujar Budi dalam konferensi pers di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Senin (8/6).

Selain serat abaka, barter dagang juga dilakukan terhadap komoditas bijih besi atau iron ore dari Filipina yang akan diolah menjadi baja oleh Krakatau Steel sebelum diekspor kembali.

Budi menegaskan skema barter tidak memakai mata uang dolar Amerika Serikat (AS) karena setiap negara mempunyai agen barter sebagai fasilitator.

"Setelah diproses dari grup Krakatau Steel, kemudian bajanya kita ekspor ke Filipina. Ini sistem barter, jadi kita tidak menggunakan mata uang dolar. Karena nanti masing-masing negara mempunyai agen yang memfasilitasi," tambahnya.

Ia menerangkan skema barter dagang ini menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan upaya ekspor di tengah nilai tukar rupiah yang terus melemah.

"Ini salah satu solusi sebenarnya ya bagaimana pertama kita meningkatkan ekspor kita dan bagaimana kita dengan barter ini kan tidak tergantung mata uang asing," sebut Busan.

Kesepakatan tersebut berpotensi menghasilkan transaksi mencapai US$350 juta atau setara Rp6,34 triliun (asumsi kurs Rp18.180 per dolar AS) melalui dua MoU imbal dagang tripartit atau melibatkan tiga pihak.

Pertama, MoU antara Asian Pyrochem Technologies dari Filipina bersama PT Trade Barter Indonesia dan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia yang menyepakati pertukaran serat abaka mentah dengan produk tekstil jadi senilai US$50 juta atau setara Rp909,2 miliar per tahun.

Kedua, MoU antara Asian Pyrochem Technologies bersama PT Trade Barter Indonesia dan PT Krakatau Global Trading yang menyepakati pertukaran produk baja dengan bijih besi asal Filipina senilai US$300 juta atau setara Rp5,45 miliar per tahun.

[Gambas:Video CNN]

(fln/sfr) Add as a preferred
source on Google