Harga Minyak Naik ke US$94, Risiko Konflik Iran-Israel Belum Hilang
Harga minyak dunia menguat tipis pada perdagangan Selasa (9/6), meski Iran dan Israel menghentikan serangan langsung satu sama lain.
Namun, pasar masih mewaspadai gencatan senjata 'rapuh' karena terbuka peluang kedua negara kembali melanjutkan aksi militer jika situasi memburuk.
Pasar energi masih mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah. Investor belum sepenuhnya yakin gencatan senjata yang didorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump dapat bertahan dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 13 sen atau 0,14 persen menjadi US$94,38 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 11 sen atau 0,12 persen ke level US$91,41 per barel.
Lihat Juga : |
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak sempat melonjak hingga 5 persen pada sesi sebelumnya, menyusul serangan baru Israel ke Lebanon, yang kemudian dibalas Iran.
Aksi saling serang itu sempat mengurangi harapan pasar terhadap berakhirnya konflik di kawasan.
Namun, harga minyak kemudian menguat terbatas setelah militer Iran mengumumkan serangan terhadap Israel.
Analis pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan pelaku pasar masih meragukan keberlangsungan gencatan senjata yang saat ini berlaku.
"Meski ada sedikit kelegaan dari jeda serangan langsung terbaru, investor belum yakin gencatan senjata ini akan bertahan," kata Waterer.
Menurutnya, pasar saat ini masih memperhitungkan risiko ketidakpastian geopolitik dibandingkan mengasumsikan konflik telah benar-benar berakhir.
Iran dan Israel sebelumnya menyatakan menghentikan serangan satu sama lain setelah seruan Presiden AS Donald Trump yang meminta kedua pihak segera menghentikan baku tembak.
Namun, Teheran memperingatkan akan kembali melakukan serangan apabila Israel terus menyerang kelompok Hizbullah di Lebanon.
Analis IG Tony Sycamore mengatakan penghentian sementara konflik memang membantu mencegah eskalasi yang lebih luas, tetapi situasi geopolitik di kawasan masih tetap tegang.
"Ini membantu menghentikan situasi agar tidak semakin memburuk, tetapi latar belakang geopolitik masih tegang dan kesepakatan damai yang berkelanjutan masih sulit dicapai," ujarnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya akan merespons dengan kekuatan penuh apabila Iran kembali melancarkan serangan.
Di sisi lain, Trump mengungkapkan telah memperingatkan Netanyahu agar tidak kembali memulai perang dengan Iran. Dalam wawancara dengan Axios yang dipublikasikan Senin, Trump mengatakan Israel berisiko berjuang sendirian apabila memilih kembali terlibat konflik terbuka dengan Teheran.
Pelaku pasar juga terus memantau perkembangan perundingan damai antara Washington dan Teheran. Salah satu isu utama yang didorong AS dalam negosiasi tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
(tim/pta) Add
as a preferred source on Google
