PT RMM Konsisten Serap TBS Sesuai Ketentuan di Tengah Penurunan Harga

Artha Graha | CNN Indonesia
Selasa, 09 Jun 2026 18:32 WIB
Ilustrasi tandan buah segar (TBS) sawit. (Foto: Arsip Artha Graha)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah keluhan petani sawit soal anjloknya harga tandan buah segar (TBS) dalam beberapa pekan terakhir, tidak semua pabrik kelapa sawit (PKS) membeli TBS di bawah harga yang ditetapkan pemerintah. Sebagian petani plasma justru mengaku masih menerima harga sesuai ketentuan dari mitra perusahaan mereka.

PT Rimba Mujur Mahkota (RMM) tetap berkomitmen membeli Tandan Buah Segar (TBS) sawit milik petani plasma sesuai dengan regulasi pemerintah. Langkah ini menjadi angin segar di tengah tren penurunan harga sawit yang melanda berbagai wilayah dalam beberapa pekan terakhir.

Anak usaha Artha Graha ini memastikan transparansi harga tetap terjaga bagi para mitra perkebunannya. Hal tersebut membuktikan bahwa pola kemitraan yang sehat mampu melindungi kesejahteraan petani dari fluktuasi pasar yang ekstrem.

Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Sumber Usaha, Mujahit, mengonfirmasi bahwa petani plasma yang bermitra dengan perusahaan masih menerima harga yang layak. Menurutnya, harga beli yang diterapkan PT RMM sepenuhnya merujuk pada ketetapan Dinas Perkebunan Kabupaten Mandailing Natal.

"Kami bersyukur, PT RMM membeli TBS kami dengan harga tinggi, sesuai ketentuan Disbun," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6).

Konsistensi perusahaan dalam mengikuti formula harga resmi dinilai menjadi faktor kunci keberlanjutan usaha perkebunan rakyat. Pola ini memastikan petani tidak menanggung beban sendirian ketika dinamika harga global sedang tidak menentu.

Sebelumnya, para petani sawit sempat mengeluhkan penurunan harga TBS yang cukup signifikan di pasaran. Harga yang semula berada di kisaran Rp3.600 hingga Rp3.700 per kilogram turun menjadi Rp2.300 hingga Rp2.500 per kilogram.

Penurunan ini terasa kian berat bagi petani karena biaya operasional yang tidak ikut turun. Komponen biaya produksi seperti pupuk dan bahan bakar minyak (BBM) saat ini masih tergolong tinggi.

Namun, keberadaan perusahaan yang patuh pada aturan harga memberikan ruang napas bagi para mitra plasma. Kepastian harga ini membantu petani untuk tetap mampu membiayai perawatan kebun dan kebutuhan operasional lainnya secara berkelanjutan.

"Petani bisa lebih tenang, bisa mengimbangi kebutuhan pupuk dan BBM yang masih tinggi," tambah Mujahit.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa penurunan harga TBS secara umum tidak bisa disamaratakan pada seluruh pelaku industri sawit. Perusahaan yang mengedepankan kemitraan transparan terbukti tetap memberikan nilai ekonomi yang adil bagi petani di daerah.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus memantau praktik pembelian TBS oleh pabrik kelapa sawit secara nasional. Pengawasan ini dilakukan untuk memastikan seluruh pihak mematuhi regulasi harga yang telah disepakati bersama pemerintah daerah.

Apresiasi juga diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang tetap menjalankan kemitraan secara sehat dan etis. Kolaborasi yang stabil antara perusahaan inti dan koperasi dianggap sebagai fondasi utama dalam menjaga stabilitas sektor sawit nasional.

Ke depannya, hubungan yang kuat antara industri dan petani plasma diharapkan mampu memitigasi risiko dampak dinamika pasar global. Langkah ini sangat krusial untuk memastikan kesejahteraan petani tetap terlindungi di tengah berbagai tantangan industri.

(rir)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK