Bos Freeport: 2014 Tonggak Awal Indonesia Percepat Hilirisasi Mineral

CNN Indonesia
Selasa, 09 Jun 2026 20:03 WIB
Itu memperkuat fondasi industri nasional melalui peningkatan nilai tambah komoditas tambang yang sebelumnya diekspor dalam bentuk mentah atau setengah jadi. (FOTO:Tangkapan layar Youtube CNNIndonesia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Perusahaan tambang Freeport ungkap Indonesia telah memasuki fase baru industrialisasi berbasis logam setelah lebih dari satu dekade menjalankan kebijakan hilirisasi mineral.

Proses tersebut disebut telah memperkuat fondasi industri nasional melalui peningkatan nilai tambah komoditas tambang yang sebelumnya diekspor dalam bentuk mentah atau setengah jadi.

Senior Vice President Government Relations PT Freeport Indonesia (PTFI) Harry Pancasakti mengatakan 2014 menjadi titik awal penting bagi Indonesia dalam mempercepat hilirisasi sektor pertambangan, khususnya melalui pengembangan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral.

Menurut Harry, sejak saat itu Indonesia tak hanya fokus pada aktivitas penambangan, tetapi juga mulai memperkuat proses pengolahan hasil tambang di dalam negeri.

"2014 merupakan tonggak awal untuk proses hilirisasi dalam bentuk pemurnian lebih lanjut. Karena seperti yang dilakukan Freeport Indonesia, kita tidak hanya melakukan proses penambangan, tapi juga melakukan pengolahan," ujar Harry dalam acara Prime News CNN Indonesia TV, Selasa (9/6).

Ia menjelaskan pada tahap awal hilirisasi, produk yang dipasarkan baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor masih berupa hasil pengolahan seperti konsentrat tembaga. Namun, seiring berkembangnya industri smelter, produk tersebut kemudian diproses lebih lanjut menjadi logam dengan tingkat kemurnian yang jauh lebih tinggi.

Harry mencontohkan konsentrat tembaga yang sebelumnya menjadi produk utama kini dapat dimurnikan menjadi tembaga katoda dengan tingkat kemurnian mencapai 99,99 persen. Selain itu, proses pemurnian juga menghasilkan logam mulia seperti emas dan perak.

"Kalau produk pengolahan Freeport namanya konsentrat tembaga, kemudian begitu dimurnikan akan muncullah logam-logam yang kemurniannya sudah seperti tembaga katoda 99,99 persen, kemudian emas juga, perak juga," katanya.

Tak hanya menghasilkan produk utama, proses pemurnian juga membuka peluang ekonomi baru melalui pemanfaatan unsur-unsur mineral yang sebelumnya tidak memiliki nilai komersial dalam konsentrat.

Menurut Harry, sejumlah logam seperti platinum group metals, selenium, bismut, dan timbal kini dapat dipisahkan dan menjadi produk yang memiliki nilai jual tersendiri.

"Beberapa elemen lain yang tadinya tidak terdeteksi di dalam konsentrat, tidak payable di dalam konsentrat, tapi karena proses pemurnian ini menjadi payable," pungkasnya.

(ldy/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK