Chatib Basri Unggah Soal Asrul Sani, Ada Apa?
Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan (menkeu) Chatib Basri mengunggah foto penyair dan budayawan Asrul Sani bernuansa hitam putih di akun Instagram pribadinya, Rabu (10/6).
Unggahan itu dibuat bertepatan dengan peringatan 100 tahun kelahiran Asrul Sani yang lahir pada 10 Juni 1926.
"Bila ia masih hidup, 10 Juni 2026, Asrul Sani akan berumur seratus tahun. Angka yang bulat. Nyaris seperti penanda. Seolah waktu ingin memberi jeda, meminta kita berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang," tulis Chatib dalam unggahannya di Instagram hari ini (10/6).
Dalam tulisan tersebut, Chatib mengenang sosok Asrul bukan hanya sebagai sastrawan besar Indonesia, melainkan juga sebagai paman yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan hidupnya.
"Bagi banyak orang, Asrul adalah penyair Angkatan '45, penulis, penerjemah, dan salah satu penanda penting kebudayaan Indonesia pascakemerdekaan. Bagi saya, ia adalah Pak Cun-adik kandung ayah saya," tulisnya.
Chatib menceritakan kenangan masa kecilnya saat Asrul tinggal di rumah keluarganya di kawasan Menteng, Jakarta. Ia mengingat suasana kamar sang paman yang dipenuhi buku-buku, mesin tik tua, aroma rokok, hingga kebiasaan Asrul memberi makan tikus yang berkeliaran di dalam kamar.
Namun, menurut Chatib, hal yang paling membekas bukanlah suasana kamar tersebut, melainkan pertanyaan dan nasihat yang diberikan Asrul mengenai pendidikan.
Ia mengenang sebuah pertanyaan sederhana yang pernah diajukan Asrul kepadanya, yakni mengenai alasan seseorang menempuh pendidikan tinggi.
"Mengapa seseorang masuk universitas?" tulis Chatib mengutip pertanyaan sang paman.
Saat Chatib hendak melanjutkan studi pascasarjana di Australian National University, Asrul juga memberikan pesan yang terus diingatnya hingga kini.
"Yang paling penting dalam sekolah bukanlah buku teks. Buku teks di setiap universitas akan sama saja. Yang penting adalah bagaimana kamu mengembangkan pemikiran, berdiskusi, bertukar gagasan, dan belajar dari lingkungan di sekitarmu," kenang Chatib.
Menurut dia, nasihat tersebut mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan. Pendidikan, kata Chatib, bukan sekadar memperoleh gelar atau pengetahuan, tetapi juga memelihara rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap gagasan baru.
"Pesan itu mengubah cara saya melihat pendidikan. Pendidikan bukan sekadar soal memperoleh pengetahuan atau gelar. Ia juga tentang memelihara rasa ingin tahu dan membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru," ujarnya.
Di akhir tulisannya, Chatib mengatakan nasihat dan pertanyaan yang diberikan Asrul masih terus ia ingat hingga kini.
"Barangkali memang begitu cara seorang guru bertahan hidup: bukan dalam jawaban yang ia berikan, melainkan dalam pertanyaan yang terus menemani kita," tulisnya.
Chatib menyebut unggahan tersebut disarikan dari tulisannya untuk buku peringatan 100 tahun kelahiran Asrul Sani.
(lau/ins)