Luhut Sebut Govtech Bisa Dongkrak Rasio Pajak RI Hingga 13 Persen

CNN Indonesia
Rabu, 10 Jun 2026 15:06 WIB
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan implementasi Government Technology (GovTech) berpotensi mengerek rasio pajak (tax ratio) Indonesia. (CNN Indonesia/ Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan implementasi Government Technology (GovTech) berpotensi mengerek rasio pajak (tax ratio) Indonesia.

Luhut menjelaskan integrasi data antarkementerian dan lembaga yang sedang dilakukan pemerintah bakal memudahkan identifikasi UMKM yang selama ini belum tercatat dalam ekosistem perpajakan.

Ia menilai sistem tersebut dapat menarik jutaan pelaku UMKM untuk masuk ke dalam sistem perpajakan formal. Adapun jumlah UMKM saat ini diprediksi mencapai 64 juta.

"Ini saya pikir penting karena nanti dengan GovTech masuk, maka UMKM yang 64 juta itu supaya mereka itu juga ikut bagian yang 0,5 persen bayar pajak itu terlibat," ujar Luhut dalam konferensi pers di Istana Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (9/6).

Ia menuturkan GovTech bisa memperluas basis pajak yang akan meningkatkan rasio pajak Indonesia yang kini masih berada di sekitar 9 persen. Luhut pun berharap tax ratio bisa menyentuh 12 persen hingga 13 persen.

"Kalau itu terjadi maka tax ratio kita akan naik dari 9 persen-an sekarang mungkin ke 12 persen atau 13 persen. Dari situ juga kalau penerimaan negara akan meningkat cukup signifikan, itu ada peluang kita akan menurunkan pajak nanti ke depan," terangnya.

Kemudian, Luhut juga menyebutkan data GovTech yang semakin lengkap juga dapat mendorong pembentukan UMKM sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru.

"Juga ada peluang lagi untuk menciptakan lapangan kerja karena data GovTech yang begitu lengkap, UMKM-UMKM baru bisa akan dibentuk," ujar Luhut.

Ia pun mengatakan kini GovTech telah menghubungkan sekitar 80 persen sistem data pemerintah. Bahkan, data dari delapan kementerian dan lembaga telah terintegrasi dalam satu sistem sejak 1 Juni lalu untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka.

"Sebenarnya tanggal 1 Juni kemarin itu ada peristiwa besar kalau menurut kami. Karena datanya menjadi satu, berbasis AI. Jadi semua data itu sekarang sudah terkoneksi dan mulai dibersihkan oleh AI," pungkasnya.

(fln/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK