Produksi Belum Normal, Freeport Target Setor Rp52 T ke Negara 2026
PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan kontribusi US$2,9 miliar atau sekitar Rp52,07 triliun (asumsi kurs Rp17.958 per dolar AS) kepada negara sepanjang 2026.
Target tersebut dipasang di tengah operasional perusahaan yang masih belum sepenuhnya pulih akibat sejumlah gangguan yang terjadi dalam dua tahun terakhir.
Senior Vice President Government Relations PTFI Harry Pancasakti mengungkapkan perusahaan tetap menargetkan kontribusi yang signifikan kepada negara melalui pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), serta dividen kepada pemegang saham.
"Dari apa yang kita canangkan di 2026 ini, kembali ini tidak normal untuk Freeport Indonesia, tapi kontribusi yang secara rencana kerja dan anggaran belanja yang kami anggarkan dan kami rencanakan untuk fee pemerintah itu sekitar total US$2,9 miliar dolar," jelas Harry dalam acara Prime News CNN Indonesia TV, Selasa (9/6).
Kontribusi tersebut akan mengalir baik kepada pemerintah pusat maupun daerah.
Hal itu, sambung Harry, menunjukkan Freeport tetap menjadi salah satu penyumbang penerimaan negara terbesar meski sedang berada dalam masa pemulihan operasional.
Tahun ini memang masih menjadi periode yang menantang bagi perusahaan.
Operasi tambang dan fasilitas pengolahan belum berjalan pada kapasitas normal setelah insiden yang terjadi di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) dan tambang bawah tanah.
"Di tahun 2026 juga bukan tahun yang mudah tapi berhasil kita running lagi, kemudian mencapai ramp up 70 persen," ujarnya.
Menurut dia, operasional Freeport sempat terdampak kebakaran fasilitas asam sulfat di smelter Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur, pada 2024 yang memengaruhi kinerja produksi sepanjang 2025.
Selain itu, insiden runtuhnya fasilitas tambang bawah tanah di area Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025 juga turut menekan tingkat produksi perusahaan.
Saat ini, operasi tambang Freeport baru berjalan sekitar 50 persen dari tingkat produksi normal.
Sepanjang 2025, Freeport mencatat kontribusi sekitar sebesar Rp75 triliun ke negara. Penyetoran dilakukan dalam dua tahap yakni Rp70,2 triliun pada tahun lalu dan Rp4,8 triliun pada April 2026.