Pertamina Beber Risiko Jika Harga Pertamax Tak Naik Jadi Rp16.250

CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 09:12 WIB
PT Pertamina Patra Niaga mengungkap risiko yang terjadi apabila harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax tidak dinaikkan menjadi Rp16.250 per liter. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina Patra Niaga mengungkap risiko yang terjadi apabila harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax tidak dinaikkan menjadi Rp16.250 per liter.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan mengatakan perusahaan sempat menahan harga BBM nonsubsidi sejak Maret hingga awal Juni 2026 meski harga impor BBM terus meningkat akibat gejolak geopolitik global.

Namun, kebijakan tersebut membuat kemampuan Pertamina membeli BBM dari pasar internasional terus menurun karena harga jual di dalam negeri lebih rendah dibandingkan biaya pengadaan.

"Pertamina mengimpor BBM dengan harga tinggi, terus kami jual di domestik harganya rendah. Uang yang kami dapat (dari penjualan domestik) untuk membeli BBM di market (impor) tidak lagi mendapatkan volume yang sama," ujar Sigit dalam Sarasehan Energi bertajuk Transisi Energi dalam Memitigasi Konflik Global di IPB, Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/6) lalu, seperti dikutip dari keterangan resmi.

Menurut Sigit, kondisi tersebut berisiko menekan volume impor BBM yang dilakukan Pertamina. Jika terus berlangsung, stok energi nasional dapat terganggu terutama saat terjadi lonjakan permintaan.

"Kami tidak ingin kondisinya terus-terusan seperti ini, sehingga ketersediaan produk energi di masyarakat akan menurun. Ketika ada puncak permintaan, kondisi ini akan menjadi masalah," ujarnya.

Ia menjelaskan sejak konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memanas, harga BBM impor yang dibeli Pertamina meningkat signifikan. Di sisi lain, pemerintah juga harus mempertimbangkan dampak kenaikan harga energi terhadap daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Sigit mengatakan apabila harga BBM langsung disesuaikan mengikuti kenaikan harga minyak dunia, biaya produksi berbagai sektor usaha akan meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga barang di pasar.

"Kalau biaya produksinya naik, akan berpengaruh ke harga jual produk yang dihasilkan. Berarti harga di pasar akan naik. Masyarakat konsumen bisa membeli, enggak? Tentu berat," ujarnya.

Meski demikian, Pertamina akhirnya memutuskan melakukan penyesuaian harga setelah berkonsultasi dengan pemerintah demi menjaga ketersediaan pasokan BBM di dalam negeri.

"Kami ingin memberikan pesan bahwa ini memang perlu naik karena kondisinya memang harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai di market," ujar Sigit.

Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Adapun harga BBM nonsubsidi lainnya seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tidak berubah. Begitu pula dengan BBM subsidi Pertalite dan Biosolar yang masing-masing tetap dijual Rp10 ribu dan Rp6.800 per liter.

(lau/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK