Bangunan Konsulat Indonesia Baru di Jeddah Padukan Batik dan Rawshan
Arsitektur diplomatik memiliki kriteria berbeda. Ia harus memenuhi kebutuhan dua pemerintah secara bersamaan, menavigasi kerangka peraturan yang tidak menggunakan bahasa yang sama, dan menghasilkan bangunan yang berfungsi sebagai lembaga berdaulat, pernyataan budaya, dan keamanan dalam satu dinding.
Konsulat Jenderal Indonesia yang baru di Jeddah, dirancang oleh INJ Architects di bawah pimpinan Arsitek Ibrahim Nawaf Joharji, menerapkan konsep tersebut dengan gaya berbeda.
Kompleks seluas 5.832 meter persegi yang selesai dibangun pada awal tahun 2026 itu didesain memenuhi navigasi simultan terhadap peraturan perencanaan Kota Saudi, saluran otorisasi Kementerian Luar Negeri, dan protokol keamanan yang mengatur fasilitas diplomatik yang dilindungi secara internasional.
Co-founder INJ Architect, Dr. Azhar Magrabi mengatakan bahwa kerangka kerja ini beroperasi melalui rantai otoritas yang berbeda dan tidak saling berkaitan secara langsung.
"Dalam konteks ini, arsitek berfungsi kurang lebih sebagai perancang dan sebagai mediator teknis antara lembaga-lembaga yang komunikasinya melalui protokol, bukan obrolan," kata Azhar.
Satu hal yang paling menonjol, adalah fasad utama bangunan. Distrik Al-Balad dikenal memiliki elemen arsitektur tradisional khas wilayah Hijaz yang mencakup Jeddah, Makkah, dan Madinah, yakni Rawshan.
Menjadi definisi karakter perkotaan selama ratusan tahun, Rawshan adalah layar kisi-kisi berornamen menyerupai balkon tertutup yang terbuat dari batu karang. Peraturan setempat mengharuskan bangunan baru di Jeddah untuk selaras dengan tradisi arsitektur ini.
INJ Architect pun mendapatkan cara berbeda mengimplimentasikan peraturan tersebut, yakni dengan memadukan batik sebagai kultur Indonesia.
"Alih-alih memperlakukan persyaratan ini sebagai batasan, desain menerjemahkan geometri tekstil Batik Indonesia ke dalam layar logam berlubang yang membawa logika struktural Rawshan sambil mengekspresikan identitas budaya Indonesia yang paling dikenal," tutur. Azhar
Pola perforasi yang dikembangkan secara parametrik dan dikalibrasi terhadap geometri matahari dari orientasi spesifik bangunan, mempersatukan kinerja lingkungan dan ekspresi budaya dalam sistem fasad yang sama. Garis atap merujuk pada vernakular Rumah Gadang di Sumatra Barat, dengan lengkungan ke atas yang ditafsirkan ulang dalam persyaratan formal Kode Bangunan Saudi.
Pada saat bersamaan, bangunan juga mengusung nilai keberlanjutan. Semua perlengkapan dan sistem konstruksi didatangkan dari sumber lokal, yang bertujuan mengurangi emisi transportasi dan jejak karbon proyek, serta melindungi komisi dari gangguan rantai pasokan global selama periode ketidakpastian geopolitik regional. Proyek ini diselesaikan tepat waktu.
Kompleks ini terdiri dari bangunan operasional administrasi konsuler, tempat tinggal diplomat, dan fasilitas khusus untuk Misi Haji Indonesia, dengan jalur sirkulasi terpisah yang dirancang untuk mengelola volume jamaah haji puncak tanpa mengganggu operasi harian atau membahayakan infrastruktur keamanan kompleks.
Hingga kini, arsitektur diplomatik jarang mendapat perhatian seperti bangunan sipil atau budaya. Penyebabnya mulai masalah pembangunan yang kurang terlihat, proses persetujuan yang kurang dipahami, hingga kewajiban budaya yang kompleks.
INJ Architect menjawab semua tantangan melalui pembangunan gedung konsulat Indonesia di Jeddah, melebur budaya dari dua negara dalam satu karakter arsitektur.
(rea/rir)