Harga Minyak Naik, Bank Dunia Ramal Ekonomi RI 2026 Cuma 5 Persen

CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 20:07 WIB
The World Bank Group logo is seen on the building of the Washington-based global development lender in Washington on January 17, 2019. World Bank current President Jim Yong Kim announced on January 7, 2019, that he would cut short his tenure as presi
PDB diperkirakan turun ke 5 persen pada 2026 imbas naiknya harga minyak, imbal hasil obligasi global, sentimen risiko, serta lesunya ekspor dan investasi asing. (FOTO:AFP/ERIC BARADAT).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada 2026, yakni sebesar 5 persen.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan turun menjadi 5 persen pada 2026 seiring kenaikan harga minyak, tingginya imbal hasil obligasi global, meningkatnya sentimen risiko, serta melemahnya permintaan dari mitra dagang yang menekan ekspor dan investasi asing.

Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, belanja pemerintah yang berlanjut, serta investasi domestik yang masih berjalan diperkirakan menjadi bantalan dalam jangka pendek.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun, ketergantungan pada konsumsi pemerintah mengandung risiko mengingat ruang fiskal yang terbatas dan meningkatnya biaya subsidi di bawah aturan fiskal yang berlaku," tulis Laporan Bank Dunia bertajuk Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026.

Konsumsi rumah tangga diproyeksikan tumbuh sekitar 5 persen, didukung momentum belanja rumah tangga dan kebijakan fiskal yang terarah. Konsumsi pemerintah diperkirakan meningkat lebih kuat, yaitu sebesar 8,7 persen, seiring pelaksanaan program-program prioritas.

Pertumbuhan investasi diproyeksikan melambat menjadi 4,9 persen, sedangkan pertumbuhan ekspor diperkirakan turun menjadi 5 persen.

[Gambas:Youtube]

Skenario dasar Bank Dunia mengasumsikan konflik di Timur Tengah tetap terkendali tetapi berlanjut sepanjang 2026.

Dalam kondisi tersebut, gangguan pasar minyak dan hambatan pengiriman membuat harga minyak Brent bertahan tinggi di kisaran 94 dolar AS per barel.

Kondisi moneter global juga diperkirakan tetap relatif ketat dalam jangka pendek dengan imbal hasil obligasi dan premi risiko yang masih sensitif terhadap guncangan baru, sedangkan permintaan eksternal melemah sebelum pulih secara bertahap pada 2027-2028.

"Proyeksi ini juga mengasumsikan kredibilitas kebijakan domestik tetap terjaga, defisit fiskal tetap berada dalam batas yang ditetapkan undang-undang, ekspektasi inflasi tetap terkendali, serta program investasi yang sedang berjalan, termasuk proyek terkait Danantara, terus berlanjut," tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat menjadi 5,2 persen pada 2027 dan 2028 seiring meredanya gangguan eksternal dan berjalannya reformasi domestik yang mendukung investasi

Pemulihan diperkirakan ditopang oleh meredanya tekanan di pasar komoditas, pertumbuhan kredit swasta yang lebih kuat, percepatan investasi Danantara, serta agenda reformasi pemerintah melalui program debottlenecking.

Dorongan investasi dari tiga sumber tersebut diharapkan dapat mengimbangi kontribusi ekspor neto yang melemah akibat memburuknya terms of trade dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan global.

Dari sisi penawaran, manufaktur berbasis komoditas, agribisnis, konstruksi, sektor jasa, dan ekonomi digital diperkirakan tetap menjadi motor utama pertumbuhan.

"Namun, kekuatan pemulihan akan sangat bergantung pada kecepatan implementasi reformasi dan kemampuan menarik investasi swasta," tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Sementara itu, Bank Dunia sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 2,5 persen pada 2026, turun dari 2,9 persen pada 2025, yang akan menjadi laju pertumbuhan terendah sejak pandemi Covid-19.

Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh memburuknya prospek negara-negara yang bergantung pada impor energi serta negara yang terdampak langsung oleh konflik.

Aktivitas ekonomi global diperkirakan kembali menguat pada 2027-2028 seiring pulihnya pasokan energi, dimulainya kembali pelonggaran kebijakan moneter, dan menguatnya perdagangan internasional.

(dhz/ins) Add as a preferred
source on Google