Harga Minyak Merosot Tajam ke US$83,75 per Barel Berkat Sinyal Damai
Harga minyak dunia merosot ke level terendah sejak Maret ke level US$83,75 per barel pada perdagangan Senin (15/6).
Penurunan tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan wakil menteri luar negeri Iran mengatakan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dan melanjutkan lalu lintas melalui Selat Hormuz.
Melansir Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent terpantau turun US$3,58 atau 4,1 persen menjadi $83,75 per barel. Adapun untuk harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$80,87 atau turun US$4,01 setara 4,72 persen.
Penurunan tersebut melanjutkan tren harga dunia yang sebelumnya sempat anjlok lebih dari 3 persen pada perdagangan Jumat (12/6).
Lihat Juga : |
AS dan Iran dikabarkan akan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada Jumat (19/6), sebagaimana diungkapkan perdana menteri Pakistan selaku mediator. Bahkan, Trump mengatakan Selat Hormuz akan dibuka bebas pada Minggu (21/6), dan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran juga akan berakhir.
Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr mengatakan rancangan perjanjian tersebut menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari berdasarkan pengaturan Iran.
"Risiko geopolitik yang selama ini berdampak pada minyak mentah kini mulai berkurang secara agresif, karena para pedagang memperkirakan prospek pemulihan aliran minyak," kata Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer.
Dunia telah kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas sejak perang menutup Selat Hormuz, yang merupakan gerbang arus masuk dan keluar pasokan minyak dan gas alam cair dunia, selama lebih dari tiga bulan.
Investor juga mengamati dengan hati-hati seberapa cepat produsen minyak di Timur Tengah dapat melanjutkan produksi dan ekspor minyak, setelah beberapa bulan terakhir mengalami kerusakan akibat perang dan serta memantau seberapa banyak kapal yang akan memasuki wilayah tersebut.
"Meskipun ketidakpastian ini menunjukkan risiko positif terhadap perkiraan kami untuk minyak Brent berjangka yang akan mencapai US$80 per barel pada akhir tahun ini, aliran minyak melalui Selat Hormuz perlu beroperasi 60-70 persen dari tingkat sebelum perang untuk bisa mengembalikan pasar minyak ke kondisi sebelum perang," kata Ahli Strategi Komoditas Commonwealth Bank of Australia dalam sebuah catatannya.
Lihat Juga :REKOMENDASI SAHAM IHSG Bakal ke Zona Hijau, Cek Saham Berpeluang Cuan Pekan Ini |
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan perjanjian yang lebih luas akan dinegosiasikan dalam periode gencatan senjata 60 hari.
Negara-negara E4 yang meliputi Inggris, Perancis, Jerman dan Italia mengatakan pada Minggu (14/6) bahwa negara-negara tersebut siap untuk mencabut sanksi terhadap Iran sebagai tanggapan terhadap langkah-langkah program nuklirnya.
"Mengingat ketidakpastian seputar perundingan berikutnya dalam 60 hari ke depan, khususnya seputar aspek nuklir, sulit untuk melihat harga minyak mentah turun terlalu jauh dalam waktu dekat," kata Analis Pasar IG Tony Sycamore.
(ins)